I’m not Crazy Enough
20 June 2009 at 22:49 | In Coretan | 3 CommentsAku berjalan sendiri di bawah terik matahari
Sinarnya sangat terang penuh kehangatan
Hingga membuat langit berpeluh menagis murung
Menjatuhkan tetes demi tetes air ke muka bumi
Aku hanya terkejut…
Terpana melihat dunia
Begitu cepat berubah, tak kondusif
Gejolak membara jiwa
Telah tertular pada duniaku
Duniamu, dunia kita
Atau bukan dunia siapa-siapa
Gejolak itu, adalah gejolak matahari
Gejolak langit, serta bumi dan kawan-kawannya
Gejolak yang indah dengan penampakan mejikuhibiniu
Dengan semangat petir yang mengaum
Dengan sentuhan badai yang luar biasa
Hahahaha…
Aku mulai terlihat gila
Ada yang setuju?
Apa ini?
Apa yang ku tulis?
Akulah matahari
Akulah langit
Akulah bumi
Siapa aku?
“Hey!”, Seseorang meneriakiku
dia berteriak lantang di depan telingaku,”Kau bukan langit! Kau bukan matahari! Kau bukan bumi! Kau itu mejikuhibiniu!”
ah… dasar orang bodoh…
lalu, ada lagi gadis yang berteriak dengan lembut,”Kau bukan mejikuhibiniu! Kau itu badaiku! Kau juga petirku!”
walah… dasar wanita… mudah saja ku kibuli, atau dia yang kibuli aku?
Hahahaha…
Sebenarnya, aku ini bukan siapa-siapa
Aku memang bukanlah apa-apa yang tak tahu ada di mana dan mengapa
Yang jelas, Aku adalah aku
Aku yang belum cukup berotot untuk jadi raja rimba
Aku yang belum cukup liar untuk dikejar-kejar wanita
Aku yang belum cukup lihai untuk berkorupsi ria
Aku yang belum cukup nakal untuk masuk penjara
Aku yang belum cukup amal untuk mati saat ini
Aku yang belum cukup bandel untuk di DO
Aku yang belum cukup gila untuk masuk RSJ
Aku yang belum cukup umur untuk dapatkan KTP dari si lurah
Aku yang belum cukup pintar untuk dapatkan nobel perdamaian
Aku yang belum cukup acak-acakan untuk setara dengan Einstein
Serta aku yang ‘blablabla’ yang aku tahu atau kau yang tahu?
Sekali lagi, aku adalah aku
Aku yang tak tahu apa-apa…
Aku harus melangkah lebih jauh,
Untuk meningkatkan levelku, level kegilaanku…
Agar aku mengerti tentang semua yang ingin ku mengerti…
Saatnya ku berteriak dalam hati,”I am not crazy enough, so I have to increase my crazy level…”
Sekarang, I have to go… Goodbye my mom, goodbye my father, goodbye my brother & my sister, goodbye my girl, goodbye my friends, goodbye my teacher, goodbye everyone, goodbye everything…
Ada yang mau ikut denganku?
Bandung, 20 Juni 2009
by: Vholoz van Achey
Gombalization
19 June 2009 at 22:26 | In Tulisan | 3 CommentsKata orang ini era globalisasi, alias era pemanasan global. Era yang memusingkan semua orang. Era kesadaran dan semakin ketidaksadaran manusia dalam menjaga lingkungannya. Berbagai masalah timbul dan saling menimbulkan masalah baru. Mulai dari penebangan hutan secara besar-besaran yang berdampak pada berkurangnya lahan paru-paru bumi, industri di negara-negara maju yang mengikuti nafsu dunia belaka yang menyebabkan produksi CO2 berlebih, dilanjutkan dengan kerusakan lapisan ozon bumi, disebut-sebutlah efek rumah kaca.
Saya melihat orang-orang Indonesia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, murid hingga guru, tidak semuanya mengeri apa itu efek rumah kaca. Mereka masih bingung. Tapi, pada artikel ini, saya tidak akan membahas tentang globalisasi, tapi GOMBALIZATION. Karena sudah terlalu banyak yang menyuarakan globalisasi, terlalu banyak yang mengajak, namun, masalah dunia tidak itu saja. Memang, orang-orang lebih mengutamakan masalah lingkungan. Akan tetapi, jika makhluknya saja tidak bersih bagaimana lingkungannya akan bersih.
Sama halnya yang terjadi di Indonesia kini. Pada musim-musim PEMILU kali ini, capres dan cawapres ngomong ini itu di sana sini. Mereka berteriak, “Ini visi saya, blablabla…” atau “Jika saya terpilih menjadi presiden nantinya, maka……bla bla bla…..”. Rata-rata omongan mereka memang baik jika benar-benar terjadi, benar- benar nyata. Tak hanya omong kosong belaka, bukan sekedar rayuan gombal agar rakyat memilih mereka, agar rakyat mencintai mereka. Tapi, berikanlah bukti nyata.
Sudah cukup kami saja yang menggombal pada wanita untuk mendapatkannya, sudah cukup para remaja saja yang bermain cinta dengan satu orang. Janganlah Anda-Anda sang calon pemimpin rakyat juga menggombal pada puluhan juta rakyat Indonesia yang memiliki hak pilihnya. Ibaratnya, jika seorang anak lelaki menggombal pada gadisnya, itu hanya satu. Jika Anda-Anda menggombal pada masyarakat Indonesia yang memiliki hak pilih pilpres, wah betapa berdosanya Anda. Seperti JK bilang saat depat capres di Trans TV mengenai pungli, “…Jika KPK tidak melihat, kan Tuhan melihat….” Saat itu saya hanya tertawa penuh harap, sanggupkah JK melakukan hal seperti itu. Jujur pada diri sendiri, ingat Tuhan yang tak bisa disuap. Apalagi ini masalah omongan, tidak hanya Tuhan yang mendengar, tapi jutaan manusia Indonesia juga mendengar apa yang Anda-Anda sekalian ucapkan. Wah, betapa banyak yang akan menuntut kata-kata Anda semua di kemudian hari. Jika kelak salah satu dari Anda-Anda terpilih menjadi pemimpin bangsa yang daerahnya besar ini.
Yah, saya akui Indonesia memang memiliki daerah yang besar, dan dulunya diagung-agungkan sebagai bangsa yang besar. Namun, saya rasa kini Indonesia tidak lagi bangsa yang besar, hanya daerahnya saja yang besar. Lihatlah bagaimana dunia internasional memandang Indonesia kini. Tak ada yang takut pada Indonesia. Harapan saya, pemimpin terpilih nantinya mampu mengembalikan nama besar Indonesia sebagai bangsa yang besar.
Bagaimanapun juga, kita tetap harus optimis menyongsong PEMILU 2009 kali ini. Semoga siapapun pasangan capres-cawapres terpilih nantinya adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Saya harap tidak ada yang golput. Namun, jika mereka yang golput memang berfikir bahwa tidak ada calon yang pantas menjabat, ya saya ingin mereka juga mampu memberikan solusi terbaik. Jangan cuma golput dan tidak peduli lagi dengan bangsa ini.
Untuk pasangan presiden-wapres terpilih, saya sangat mengharapkan konsistensinya terhadap kata-kata yang telah mereka ucapkan, jangan samapai lupa pada setiap omongannya. Jangan sampai, kta-kata itu hanya menjadi rayuan gombal belaka. Cukup era gombalization berakhir di sini. Lalu, untuk yang gagal terpilih, saya harap mampu bersikap dewasa dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Saya bermimpi melihat petinggi-petinggi Indonesia saling mendukung demi kemajuan bangsa ini. Begitu juga dengan rakyat Indonesia itu sendiri, percayakanlah tongkat kepemimpinan selanjutnya pada presiden terpilih, saling tolong, jangan hanya meminta dan menuntut, juga berusaha. Seperti yang tertera pada Kitab Suci, “Tidak akan berubah nasib suatu kaum (bangsa) selain kaum (bangsa) itu sendiri yang mengubah nasibnya.”
Jujur, saya membutuhkan pemimpin yang pro rakyat, mampu melanjutkan itikad baik pemimpin sebelumnya dan sanggup menyelesaikan masalah bangsa ini secara lebih cepat dan lebih baik.
~vholoz van achey~
Bunga Hatiku
17 June 2009 at 00:04 | In Coretan | Leave a CommentKetika ku pergi..
Jelas ku ingin kembali
segera…
Ketika ku semakin jauh melangkah…
Jelas ku lelah menapaki hari-hari di depan
Namun, sesaat ku terlepas…
Ku hirup udara segar
dan nikamti setangkai bunga mawar indah yang berduri
Harum tubuhnya tercium oleh jiwa…
Lembut sentuhan durinya membekas di hatiku…
Buat ku terlelap hingga esok menjelang…
Kembali ku pergi…
Lanjutkan perjalanan yang tak akan pernah usai…
melupakan mawar itu…
mencari melati yang telah menanti…
mengejar anggek yang jauh di belakangku…
Perjalanan ini semakin keras
Dan semakin indah dengan bunga-bunga hati
yang akan mekar di bumi masa depanku…
Bandung, 13 Juni 2009
by: Vholoz van Achey
Kau… Indah
16 June 2009 at 23:33 | In Coretan | Leave a Commentkau terlihat begitu indah
aku pun tersanjung ketika melihat kecantikanmu
namun, kau tak nyata ada di sampingku kini
aku hanya melihat bayangmu indah di depan bingkai persegi ini
aku pun berangan kau dapat kumiliki
aku ingin kau ada di sisiku
ku pinta kau datang padaku
kunjungi hatiku
atau aku yang akan menjemputmu
kau cukup memilih
jujur aku mencintaimu
akan kulakukan yang kau pinta asal kau selalu ada untukku
hey indah…
datanglah padaku
peluk erat diriku
beri kehangatanmu untuk jiwaku ini
jiwa yang kedinginan
karena tak miliki selimut cinta untuknya
hey gadis manisku…
tunjukkanlah kehangatan wanita padaku
ajarilah aku bagaimana mencintaimu
agar kau selalu ada di sini, di hatiku
agar aku selalu di hatimu
aku yakin…
suatu saat, kita akan berjumpa
di ruang cinta penuh hangat kasih sayang
di ruang itu…
hanya ada aku, kau, dan cinta kita
sungguh…
aku menyayangimu sepenuh hatiku
jujur…
aku hanya ingin kau jadi milikku
itu saja
Bandung, 8 Juni 2009
by: Vholoz va Achey
20 Mei…
23 May 2009 at 23:51 | In Tulisan | 3 CommentsTak terasa, tanggal 20 Mei lalu, Indonesia telah merayakan hari kebangkitan nasional yang ke 101. Wah, ternyata sudah seabad plus setahun Indonesia telah bangkit. Bangkit darimana ya? Dari kuburkah? Dari keterpurukankah? Atau dari tidurnya? Entah bangkit apa, aku tak mengerti.
Namun, yang ku tahu hanyalah secuil tentang sejarah kebangkitan Indonesia. Yaitu, pada tanggal 20 Mei 1908, para pelajar Indonesia mendirikan sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo. Organisasi bentukan pelajar pertama di Indonesia, dan saat itulah ditandainya kenagkitan nasional dimulai. Oooo…..
Tapi, apa ya makna dari memperingati hari kebangkitan nasional setiap tahunnya? Apakah itu dapat menjadikan Indonesia lebih baik? Apakah itu dapat membangkitkan kembali semangat juang para pemuda Indonesia saat itu? Dan men-transfer semangat juang itu pada pemuda Indonesia zaman sekarang. Apakah itu mungkin? Apakah itu esensi dari memperingati hari kebangkitan nasional? Atau sekedar hari biasa yang memang harus kita lewati setiap tahunnya?
Lalu, apa makna 20 Mei? Mengapa kita harus membuat hari itu spesial? Terlalu banyak pertanyaan yang ku lontarkan, entah pada siapa. Entah siapa yang mau menjawab pertanyaanku? Biarlah aku berpikir sendiri dan termenung sejenak untuk menyadari apa yang telah terjadi oada bangsaku ini, bangsa Indonesia.
Aku pun kini tersentak dan terkejut melihat kondisi bangsaku, apa yang terjadi? Ada apa ini? Apakah aku terlalu lama termenung, hinggaku terlelap dan sedang bermimpi buruk? Tidak, ternyata aku tidak bermimpi. Ini nyata. Ini memang terjadi, mereka memang sedang kelaparan, mereka sedang mengais harta yang tertinggal, mereka sedang menagis meratapi nasibnya, dan mereka masih sengsara. Aku tak sanggup melihatnya. Namun, aku juga tak sanggup berbuat banyak untuk mengubah nasib mereka. Nasib para rakyat yang masih menderita. Apakah ini yang disebut dengan bangkit? Apa Indonesia telah bangkit? Atau kini Indonesia sedang terjatuh atau memang selalu terjatuh?
Apa yang harus kulakukan? Aku ingin melakukan sesuatu untuk mengubah nasib bangsa ini, bangsa Indonesia. Tapi, aku tak sanggup untuk berkata bahwa aku bisa melakukannya. Di lain sisi, aku juga melihat banyak orang-orang berdasi, rapi, serta menggunakan jas mahal itu, meneriaki omong kosong belaka. Ya, walau ada juga sih, yang memang berteriak sesuai keinginan hatinya. Namun, siapa yang menggubris?
Lihatlah, semakin banyak saja orang yang tak peduli lagi dengan siapa yang akan jadi pemimpinnya. Kini, orang-orang hanya sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Mereka tak lagi mau memikirkan bagaimana bangsa ini di masa depan. Mereka hanya berkata,”Kan kita udah milih orang yang bakalan mikirin nasib bangsa ini kemaren, kita kan udah bayar mereka mahal-mahal. Trus, apa dunkz kerjaan mereka kalau bukan mikirin bangsa ini.” Kalimat itu sudah sering terdengar oleh telingaku.
Sepertinya, bangsa ini sedang terpuruk, sangat terpuruk. Aku lihat, mahasiswa saja sudah tak lagi peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Sepertinya, mahasiswa tak tahu lagi dimana mereka harus menempatkan diri. Aku juga bingung, apa yang harus kulakukan? Haruskah kita menunggu untuk kembali dijajah agar mampu kembali bangkit? Haruskah kita menunggu pelajar/mahasiswa seperti di masa lalu untuk mendirikan sebuah organisasi lagi sebagai tanda kebangkitan Indonesia yang kedua kalinya?
Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Seharusnya mahasiswa masa kini itu bangkit, dan bangunlah. Lalu lihatlah apa yang terjadi di sekitar kalian.
“Ayo Bangkitlah Pemuda Indonesia! Wake up and See What Happen Around You!”
by: Vholoz van Achey
Aku… Tenggelam
23 May 2009 at 22:53 | In Coretan | Leave a Commentby: Achy
Aku bimbang…
di setiap persimpangan
ntuk lanjutkan perjalanan
Aku hancur…
di setiap pertempuran
ntuk raih kemenangan
Aku binasa…
di setiap masa
di tengah sisa-sisa kehidupan
Aku sadar…
kadanga diriku tak berharga
tak punyai apa-apa
tak miliki makna
tak berarti
Seperti sebuah kekalahan
yang begitu telak
seperti sebuah tamparan
yang begitu keras
badai ini
menerpa tulang-tulangku
hingga ku remuk
dan tenggelam
dalam lautan kegelapan
Bandung, 6 Desember 2008
Ceritaku
23 May 2009 at 12:53 | In Tulisan | 1 CommentTak ada rasa. Semua hilang, kini semua telah berubah, setiap orang memiliki jalannya masing-masing, mereka menapaki jalan itu dengan kaki mereka masing-masing. Aku juga, aku sedang berjalan di jalur yang tak ku tahu benar atau salah. Aku telah melangkah dan tinggalkan masa lalu. Berada di masa kini dan menuju masa depan yang telah menantiku di sana.
Namun, aku masih ingin kembali ke masa lalu, ke masa-masa itu, masa di saat aku bersama mereka, masa yang penuh dengan kehangatan cinta. Di masa itu, aku temukan kawan, menemukan teman, sahabat …. sungguh, aku merasa dewasa dan bahagia ketika aku masih begitu muda, ketika masih 6 tahun lalu. Kala aku masih tak banyak mengerti tentang hidup, mungkin sama sekali tak ada yang ku mengerti.
Namun, kini aku sendiri di sini. Aku rindu akan masa-masa itu. Aku ingin kembali berada di tengah-tengah hangatnya kebersamaan, kuatnya tali persahabatan. Namun, itu tinggal kenangan. Ketika aku membayangkannya, aku ingin kembali pulang, tapi ku tak bisa. Ingin rasanya aku menangis, namun tangisan tak akan membawaku kembali pada mereka. Sahabat lamaku. Sahabat yang selalu di hati. Sahabat yang tak akan pernah bisa terlupakan. Mereka telah memberiku banyak pelajaran. Kami bersama membangun mimpi, memberi fondasi untuk bangunan impian yang indah. Dimana aku dan sahabatku dapat hidup bahagia. Melihat indahnya senyuman mentari, melihat kilau warna pelangi, dan merasakan hembusan angin yang lembut, membelaiku.
Mungkin hanya aku yang merasa, aku pernah berpikir telah membuang waktuku sia-sia. Terlalu cepat pergi, tanpa bisa merasakannya lama. Merasakan saat-saat hangatnya kebersamaan. Namun, itu telah membekas di hati, selalu teringat di benakku. Tak akan terlupakan oleh jiwaku.
Aku ingin kembali, ingin menjadi anak-anak yang mampu bahagia. Melakukan apa yang ia inginkan, yang dapat membuat dirinya gembira. Hanya itu yang inginku rasakan lagi. Aku ingin merasakan kebebasan itu, I wanna free my mind and my soul. Aku ingin bebas, lepas dari jeratan hidup ini.
Kini, aku mencoba mengumpulkan puzzle-puzzle masa laluku. Puzzle penuh cinta dan harapan. Serta goresan-goresan kasih sayang. Aku ingin itu kembali terlekat, erat. Dan tak akan terlepas lagi. Selamanya, aku terus mencari puzzle-puzzle itu. Seperti pancari harta karun di lautan, aku akan terus mencari jejak mereka, jejak-jejak sehabat untuk puzzleku.
Dan, ketika aku berjalan, melihat orang-orang di sekitarku, aku pun sadar. Semua telah berubah, mereka semakin terasa jauh, namun begitu dekat. Bayangnya masih di sampingku. Ku coba sentuh bayang itu, lalu menghilang. Mereka telah memilih jalan mereka masing-masing, begitu juga aku. Pernah ku berfikir, mengapa Tuhan tak mempersatukan aku dengan mereka selamanya. Mengapa kami tak mampu untuk berjalan bersama. Menuju mimpi dan cita-cita kami. Aku ingin memperbaikinya. Aku ingin memberi jiwa pada puzzle-puzzle itu. Kembali bersatu dan terangkai dengan indah. Kembali berpetualang bersama. Menikmati indahnya hidup, menghirup udara segar di dunia ini. Menuju suatu tempat yang telah kita temukan bersama.
Aku ingin menjadi diriku yang sesungguhnya, aku ingin menjalani hidup ini seperti yang memang ku inginkan. Semoga aku mampu wujudkan semuanya, semua yang kuinginkan. Aku mencoba menjadi diriku sendiri, tanpa mempedulikan orang lain, tanpa peduli akan yang mereka katakan. Aku tak peduli, aku tak peduli lagi dengan mereka. Aku hanya ingin menemukan sosok diriku yang sebenarnya.
Karakter jiwa yang tak dipengaruhi orang lain. Karakter yang ingin kuciptakan sendiri. Seakan-akan akulah penulis cerita di novel kehidupan. Tak seorangpun ku izinkan untuk menjadi editor novelku. Tulisanku, adalah kebebasanku. Begitu juga hidup ini, hidupku adalah apa yang aku ingin lakukan. Aku bebas untuk memilih, dan aku yang akan menerima resiko dengan apa yang kuperbuat. Tanpa menuruti kata-kata orang lain. Tanpa percaya pada mereka, tanpa pengaruh mereka. Akan kujalani hidup ini sesuai dengan maksud hatiku. Karena aku percaya pada kata hatiku. Because, “my heart never lie.”
Aku bukannya egois, namun sepertinya aku memang egois, lihat saja kata-kata di atas. Aku tak peduli pada kata-kata orang lain. Tapi, aku peduli pada apa yang ku lihat. Aku peduli dengan yang mereka rasakan. Tapi, pedulikah mereka padaku??? Adakah yang peduli pada orang sepertiku?? Apa aku harus berubah seperti yang mereka inginkan. Apakah karakter “Aku” pada novel kehidupanku harus berubah??? Haruskah aku menjadi apa yang orang lain inginkan??? Atau menjadi apa yang memang aku inginkan???
Aku pun bertanya pada hati. Namun, ia tak menjawab. Hatiku sepertinya tak mampu menjawab, ia bingung. Logika juga. Aku harus bagaimana?? Apakah aku harus menjadi anak-anak lagi? Tanpa memikirkan apa yang terjadi ke depan. Just let it flow. Tapi, berfikir seperti anak-anak mungkin akan membuatku lebih baik. Namun, aku tak ingin bertingkah kekanak-kanakan. Aku menuju dewasa yang berfikir lepas, seperti aku dahulu. Seperti aku di masa lalu. Sanggupkah aku kembali??
Aku harus percaya, aku harus yakin bahwa aku bisa. Aku harus percaya pada diriku sendiru. Aku mampu jadi lebih baik, tanpa harus tenggelam lebih dalam. Lebih baik aku menyelam jauh ke dasar untuk melihat bagaimana keadaan di sana. Agar aku sadar telah berada di permukaan dan dapat menghirup udara segar. Melihat mentari bercahaya, merasakan kehangatannya.
Semua belum berakhir, perjalananku masih panjang, masih begitu jauh dari tujuan. Aku rasa, aku belum mendapatkan apa yang sesungguhnya ku inginkan. Aku belum memiliki apa pinta hatiku. Logikaku belum mengerti apa maksud hati. Aku harus bisa menyatukan hati dan logika. Aku ingin mereka sejalan dan tidak membuatku bingung.
Kini, aku masih terus berlayar menuju hari esok. Masih mencoba temukan puzzle-puzzle yang hilang. Suatu saat, aku percaya bahwa aku dapat menemukan segalanya. Aku dapat meraih yang ku inginkan. Puzzle-puzzle itu tak akan menyebrangi galaksi. Mereka tak akan mampu keluar dari bumi. Karena magnet cinta telah mengikat puzzle-puzzle itu sangat erat.
Di suatu tempat, di suatu saat nanti, aku akan membuat puzzle-puzzle itu kembali bercahaya. Menyatu menjadi yang terindah. Kenangan manis yang tak akan terlupakan. Tak usah ku tenggelam dalam rindu, saatnya untukku keluar, melihat dunia. Tak hanya duduk dan termenung di muka LCD 14” ini. Kini, saatnya aku beranjak pergi, arungi hidupku. Salam perpisahan untuk sahabat. Maaf, aku tetap harus pergi dan lanjutkan perjalananku. Aku akan menantimu di penghujung ceritaku, cerita kita. Atau kau akan menantiku di sana.
Selamat tinggal teman, selamat tinggal sahabatku, selamat jalan…. Semoga kita dapat bertemu lagi dengan genggaman mimpi dan cita-cita di tangan. Tak hanya di angan. Puzzle itu akan tetap terus ku cari, agar aku bisa belajar dari pengalaman. Agar aku bisa mengenang masa laluku dengan benar. Agar aku dapat memaknai setiap langkah di hidupku ini.
Aku bisa jadi diriku sendiri untuk meraih apa yang kuinginkan. Tanpa harus menjadi orang lain. Aku hidup untuk kebebasanku, aku lepas dan bahagia. Itu tujuanku. Tulisanku tak akan berhenti di sini. Masih banyak cerita yang menantiku di depan. Sejarahku masih terlalu jauh dari sempurna. Cerita ini akan terus berlanjut hingga akhir menjelang yang tak ku tahu kapan ia datang.
Bandung, 18 May 2009
By: Vholoz van Achey
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.