Mencoba Berbicara tentang Hidup
23 October 2009 at 05:25 | In Tulisan | 7 Comments
Mencoba Berbicara
tentang
Hidup
Pemikiranku,
Zulhajismal
a.k.a
Vholoz van Achey
“semoga catatan singkat ini dapat menjadi sedikit bahan renungan tentang apa yang kita jalani”
Hidup adalah proses. Kalimat itu sudah sering kudengar. Namun, ku tak mengerti terlalu banyak mengenai hidup. Mungkin baru secuil makna hidup yang kudapatkan, atau bahkan aku belum temukan apa makna hidup itu sesungguhnya.
Kupikir, hidup itu bisa saja sebuah proses yang dapat membuatku menjadi lebih baik. Namun, hidup juga dapat membuatku mundur beberapa langkah. Itu tergantung pilihanku, itu tergantung bagaimana aku menjalani hidup ini. Begitu juga dengan orang lain. Mereka memiliki pilihan masing-masing, mereka hidup di jalan mereka masing-masing. Karena aku yakin bahwa “manusia menjadi apa yang mereka inginkan.”
Namun, apakah aku sudah hidup seperti apa yang aku inginkan? Jika aku bertanya pada orang lain, mereka biasanya menjawab bahwa hanya aku yang tahu. Mungkin memang benar, tetapi aku juga tak begitu mengerti. Aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Sudahkah aku hidup seperti apa yang aku inginkan? Karena aku belum mengetahui, apa sesungguhnya yang ku inginkan.
Aku masih mencari, apa yang sesungguhnya yang ku inginkan. Aku mencoba untuk merasakan hidup ini. Aku juga berfikir bagimana aku berdiri di bumi ini esok. Aku mencoba mencari seperti apakah aku seharusnya? Bagaimana aku seharusnya? Orang bilang, aku sedang mencari jati diriku. Mungkin memang benar. Sejujurnya, aku masih merasa begitu terombang-ambing dihempas gelombang kehidupan. Aku masih terhembus oleh angin seperti debu-debu yang melayang.
Kembali ku berfikir tentang hidup. Aku sedang menjalani proses itu. Proses hidup. Mencoba mencari jalan yang memang benar, jalan yang memang seharusnya ku lewati, jalan menuju diri yang lebih baik.
Proses demi proses, telah kulewati. Mulai jadi seorang follower hingga menjadi seorang leader pernah kurasakan. Kepedihan, kekecewaan, serta tangisan pernah mampir di dalam proses itu. Terkadang, mereka membuatku terjatuh, tertatih-tatih, dan menerima tamparan yang begitu telak. Hingga memberi bekas yang jelas dan sulit untuk kuhilangkan.
Tetapi, aku juga pernah merasakan bahagianya tertawa gembira. Hingga tetesan air mata kebahagiaan membasahi pipiku. Menghanyutkan kecewa dan kawan-kawannya. Bahagia membuatku cemas, akankah aku masih berbahagia esok? Itu hanya Tuhan yang tahu. Tetapi, aku harus tetap berusaha agar esok, bahagia kembali kunjungi diriku.
Untuk esok yang bahagia, aku harus lakukan apa? Haruskah aku melakukan apa yang kuinginkan tanpa mempertimbangkan apa yang akan dirasakan oleh orang-orang di sekitarku, atau melakukan hal yang tak ku suka, namun membuat orang di sekitarku merasa nyaman. Jika aku egois, maka aku akan memilih pilihan pertama. Namun, jka aku tidak egois, maka aku akan membuat orang lain merasa nyaman berada di sekitarku. Benarkah itu?
Egois mungkin memang sifat pribadi yang telah kumiliki sejak dahulu. Ya, salah satunya mungkin disebabkan karena aku seorang sulung yang baru memiliki seorang adik di kala aku telah 7 tahun lamanya menikmati kasih sayang orang tuaku. Namun, sejak kelahiran adikku, aku mulai belajar untuk berbagi. Berbagi kasih sayang orang tua yang utama. Tapi, hal ini memanglah yang aku inginkan, sehingga aku tak merasa salah dan kecewa. Aku begitu bahagia dengan melihat adikku dan kedua orang tuaku bahagia. Ternyata, keegoisanku tak hanya berujung pada kesalahan. Aku egois untuk tidak memikirkan hal lain, hanya keluargalah yang utama bagiku.
Lalu, apakah makna egois itu sesungguhnya? Bagaimana menurut orang-orang di dunia ini? Faktanya, dalam kehidupan sehari-hari, egois itu sudah dicap sebagai sesuatu yang salah. Tetapi bagiku, aku memiliki pandangan bahwa setiap orang memiliki parameter berbeda dalam menentukan benar-salahnya sesuatu. Ya, bisa saja sesuatu yang aku anggap benar, belum tentu benar untuk orang lain. Jadi, menurutku, kebenaran itu relatif. Tak ada yang 100% benar dan tak ada juga yang 100% salah. Nilai mutlak kebenaran itu hanya dimiliki oleh Tuhan.
Oke, mari kembali ke jalur di mana kita membicarakan proses hidup. Jadi, bagaimanakah kita mendefinisikan proses hidup itu? Apakah kelahiran dan kematian seseorang adalah bagian dari proses hidup? Apakah seorang anak lelaki berumur 6 tahun yang pergi ke sekolah juga proses hidup? Apakah sepasang suami istri yang ber-”kencan” juga merupakan suatu proses hidup? Apakah aku menulis sekarang ini juga merupakan proses hidup? Jika ya, bagaimana dengan seorang yang menghabiskan sisa waktunya di penjara? Bagaimana dengan para koruptor pencuri harta bangsa? Atau seorang gadis yang putus asa karena cinta atau hal lainnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri? Lalu, lihatlah anak-anak jalanan yang bernyanyi riang untuk mendapatkan sesuap nasi hari ini. Apakah semuanya termasuk pada bagian dari proses hidup? Dan aku akan menjawab “YA”. Bagaimanakah menurut Anda?
Aku percaya bahwa semua hal di atas adalah bagian dari proses hidup kita. Mulai dari kita belajar untuk menangis saat bayi, belajar merangkak, lalu bersekolah, berinteraksi dengan lingkungan, kuliah, beraktivitas di kantor, menikah, memiliki anak cucu, dan diakhiri dengan meninggal dunia. Tapi, hidup tak segampang seperti aku menuliskannya di atas. Dan yang aku tulispun hanyalah segilintir dari sekian banyak pilihan dalam hidup. Itu baru hidup di dunia, bagaimana dengan proses hidup kita nanti di Akhirat?
Aku hanya dapat memahami bahwa hidup itu adalah sebuah pembelajaran yang dihiasi dengan banyaknya pilihan. Kita dituntut untuk memilih di setiap persimpangan dalam hidup kita. Dan lagi-lagi, “manusia akan menjadi seperti apa yang mereka inginkan”. Karena manusia memilih jalan hidupnya masing-masing. Misalnya, ketika lulus dari sekolah menengah atas, kita diberi pilihan untuk melanjutkan ke jenjang kuliah, bekerja, menjadi seorang pengangguran, hidup luntang lantung ga jelas, menjadi seorang preman pasar, jual narkoba, atau nikah muda, serta banyaknya pilihan lain yang tak akan aku tulis satu per satu. Ini baru satu persimpangan “lulus sekolah menengah atas”. Belum lagi banyaknya pilihan lain yang telah kita lalui dan yang sedang menanti kita esok.
Ada yang bilang, “Gue ga punya pilihan lagi, gue terpaksa ngikutin maunya nyokap ama bokap buat nikah ama anaknya pak gubernur, padahal gue kepingin untuk kuliah dulu di ITB.” Sesungguhnya, itulah pilihan mereka. Aku berpikir bahwa mereka telah memilh untuk mengikuti keinginan orang tua mereka. Itulah pilihannya. Aku rasa, mereka telah salah mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain. Bisa saja mereka memilih untuk kabur dari rumah dan hidup sesuai keinginannya, menikah dengan anak bapak gubernur dan menjalani perkuliahan dengan status KTP sudah nikah, menjanjikan pada orang tua untuk menikah setelah kuliah, atau berbicara secara baik-baik kepada kedua orang tuanya, dan berbagai pilihan lainnya. Dan sepatutnya kita bersyukur karena telah melewati persimpangan demi persimpangan yang mungkin saja tidak pernah dirasakan oleh orang lain. Kita harus bersyukur pada Tuhan karena kita telah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidup kita sendiri. Masih banyak orang di luar sana yang tidak sempat dan tidak memiliki kesempatan untuk berkunjung di persimpangan “lulus sekolah menengah atas”. Ini dikarenakan orang-orang itu telah memilih jalan lain pada persimpangan-persimpangan sebelumnya. Dan kenyataannya, terkadang kita tidak sadar bahwa setiap pilihan itu memang kehendak kita, bukan kehendak orang lain.
Aku juga sedang berada dalam proses pembelajaran dalam memilih dan menentukan jalan hidupku. Tentunya, aku harus bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk melakukan hal ini. Jadi, ada tiga kata penting yang perlu aku garisbawahi mengenai proses hidup, yaitu pembelajaran, pilihan, dan kesempatan. Kini, aku dapat sedikit mulai mendefinisikan arti dari proses hidup. Menurutku, “proses hidup adalah suatu pembelajaran mengambil kesempatan dalam menentukan pilihan untuk jalan hidup kita masing-masing.”
Tetapi, itu bukanlah definisi akhir bagiku. Karena masih banyak hal lain yang harus ku pelajari agar aku dapat menentukan apa yang aku inginkan, agar aku dapat menjawab berbagai pertanyaan tentang hidup. Bukan tidak mungkin definisi “proses hidup” itu akan berubah nantinya sesuai dengan ilmu yang aku dapatkan.
Aku juga menyadari bahwa kita hidup di dunia ini harus memiliki tujuan. Sudah jelas bahwa kita tak akan terus menerus melewati setiap persimpangan demi persimpangan. Tentu akan ada suatu akhir dari perjalanan kita ini. Akan ada suatu tempat yang kita tuju. Tempat itulah tujuan kita. It’s our destination. Jika kita menilik pada perjalanan proses hidup kita di bumi, maka akhir dari perjalanan itu adalah kematian. Namun, apakah tujuan kita hidup adalah untuk mati?
Jika pilihan tujuan hidup seseorang adalah untuk mati, maka biarkanlah dia memilih. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan bagi kita untuk mengajak seseorang tersebut untuk mengganti pilihannya. Karena pengaruh lingkungan di sekitar seseorang sangatlah besar dalam menentukan pilihan hidup seseorang itu. Contoh, seorang anak yang hidup di jalanan akan terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya. Anak itu akan memilih menjadi seorang pengamen (misal) untuk melanjutkan hidupnya. Karena lingkungan yang keras, anak itu akan tumbuh menjadi seseorang yang “bermental”. Namun,
anak itu tetap saja memiliki pilihan lain, seperti keluar dari lingkungannya. Tapi, anak itu mungkin lebih memilih menjadi pengamen karena tidak mengetahui cara untuk keluar dari lingkungannya.
Hidup, proses, tujuan, pilihan, pembelajaran, kesempatan, dan ada satu hal lagi yang paling penting dalam mengaitkan kata-kata tersebut. Dan satu hal terpenting itu adalah “Takdir Tuhan”. Takdir yang telah diberikan oleh Tuhan pada kita semenjak kita memulai hidup kita di dunia ini. Takdir yang membawa kita hingga kematian menjemput kita nantinya. Namun, aku mulai kembali berfikir. Kita hidup memiliki tujuan, kesempatan untuk memilih, dan kita sedang melalui tahap pembelajaran dalam proses hidup kita. Lalu, dimanakah posisi takdir itu? Apakah takdir itulah yang memang membawa kita menuju tempat di mana kita berdiri kini? Jika ya, apakah gunanya kita belajar untuk memilih dan meggunakan kesempatan itu dengan baik, karena telah ada takdir yang akan membuat kita memilih jalan hidup ini.
Lalu, untuk apa kita hidup sesungguhnya? Apakah hanya untuk menjalani takdir yang diberikan Tuhan pada kita? Apakah menjadi “mainan” Tuhan? Sebenarnya, apa maksud takdir itu ada? Jujur, aku masih jauh dari mengerti tentang takdir. Kebanyakan orang berkata, “Bagaimanapun kerasnya kita berusaha, hasil akhir adalah milik Tuhan. Tuhanlah yang akan menentukan hasil dari kerja kita, hasil dari usaha kita. Dan itulah takdir.” Kalimat ini sungguh membuatku berfikir keras, aku bingung, pusing, dan sakit karena memikirkan hal ini. Aku tak tahu, aku tak mengerti dengan semua ini.
Maka, timbullah satu pertanyaan mendasar dari diriku,“Apa manfaatnya kita hidup dan apa tujuan kita dihidupkan jika Tuhan telah mengatur semuanya dengan takdir?” Aku sangat berharap agar aku mampu menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan yang telah menjadi bagian yang sangat penting dalam rentetan pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya.
Aku ingin memaknai hidup ini dengan benar. Aku yakin, setiap hal yang diberikan Tuhan padaku adalah yang terbaik. Dan aku harus benar-benar percaya pada Tuhan. Aku meyakini bahwa setiap sesuatu diciptakan selalu ada manfaat dan tujuannya. Tapi, apakah tujuan dan manfaatnya itu? Suatu saat nanti, aku harus bisa menemukan tujuan dan manfaat dari hidup ini. Karena Tuhan tak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia.
Semakin lama aku berfikir, semakin aku bingung. Karena belum mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Haruskah aku berlarut dalam pertanyaan ini? Aku rasa, aku memang akan terlarut dalam pertanyaan ini. Karena aku harus mampu menjawabnya.
Aku pernah membaca sesuatu yang dituliskan pada batu bernama Plaza Widya Nusantara. Mungkin bisa disebut monumen. Benda itu, Plaza Widya Nusantara, didirikan sekitar tahun 1996 di kampus ITB (Institut Teknologi Bandung). Padanya, tertulis, “supaya kampus ini menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya”. Jadi, jika aku bertanya di kampus ini, maka harus ada jawabannya. Maka, berusahalah memecahkan setiap misteri pertanyaan. Dan, kita juga harus percaya bahwa Tuhan tidak pernah memberikan masalah yang tak mampu diselesaikan oleh umatnya. Oleh sebab itu, aku harus yakin bahwa setiap pertanyaanku akan dapat terjawab suatu saat nanti.
Pernah terlintas di benakku, “tak ada yang sulit dalam hidup ini, semuanya gampang, hanya tergantung pada apa yang kita miliki”. Misal, kita ingin makan, maka akan terasa mudah jika kita memiliki uang untuk membeli makanan. Dan akan lebih mudah lagi jika kita memang telah memiliki makanan itu. Ya, itu hanya pemikiranku. Anda boleh menampiknya, tak ada larangan. Karena, kita hidup di negara demokratis.
Untuk saat ini, aku rasa hanya itu yang sanggup aku curahkan untuk memikirkan definisi proses hidup. Namun, seiring dengan bergulirnya waktu, maka akan banyak pemikiran-pemikiran lain yang kuharap lebih baik, untuk menyempurnakan definisi proses hidup. Lalu, apa yang akan Anda lakukan jika telah menemukan makna dari proses hidup atau makna hidup itu sendiri? Tentunya, Anda tidaklah harus hanya tertawa riang gembira setelah menemukan apa yang Anda cari. Karena, menemukan sesuatu adalah langkah awal untuk mencari sesuatu yang baru. Misal, jika pertanyaan pertama terjawab, maka akan ada pertanyaan kedua yang akan segera muncul dan selalulah berharap untuk mampu menjawabnya.
Aku tekankan, hidup penuh dengan pilihan, dan setiap pilihan ada konsekuensinya. Jika memilih untuk menang, maka konsekuensinya, kita harus memiliki apa yang kita butuhkan untuk menang, agar kemenangan itu mudah kita dapatkan. Jika tidak, maka pilihlah untuk menjadi seseorang yang kalah.
Setiap pilihan akan mempengaruhi jalan hidup mana yang akan kita tempuh. Adakalanya, kita tak memiliki jalan untuk kembali ke pilihan yang telah kita lewati. Jadi, berhati-hatilah dalam memilih, karena tak jarang kesempatan untuk memilih hanya ada sekali.
Dari pemikiranku, dapat aku nyatakan bahwa, “proses hidup adalah suatu pembelajaran mengambil kesempatan dalam menentukan pilihan untuk jalan hidup kita masing-masing, agar kita dapat mencapai tujuan yang kita dambakan, namun ingatlah bahwa takdir Tuhan juga bermain di dalam hidup yang kita jalani.” Definisi ini bukanlah definisi akhir dari proses hidup. Karena aku masih bernafas dan masih menjalani hidupku. Tentunya, aku yakin akan mendapatkan sesuatu untuk definisi proses hidup itu dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku.
Gombalization
19 June 2009 at 22:26 | In Tulisan | 3 CommentsKata orang ini era globalisasi, alias era pemanasan global. Era yang memusingkan semua orang. Era kesadaran dan semakin ketidaksadaran manusia dalam menjaga lingkungannya. Berbagai masalah timbul dan saling menimbulkan masalah baru. Mulai dari penebangan hutan secara besar-besaran yang berdampak pada berkurangnya lahan paru-paru bumi, industri di negara-negara maju yang mengikuti nafsu dunia belaka yang menyebabkan produksi CO2 berlebih, dilanjutkan dengan kerusakan lapisan ozon bumi, disebut-sebutlah efek rumah kaca.
Saya melihat orang-orang Indonesia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, murid hingga guru, tidak semuanya mengeri apa itu efek rumah kaca. Mereka masih bingung. Tapi, pada artikel ini, saya tidak akan membahas tentang globalisasi, tapi GOMBALIZATION. Karena sudah terlalu banyak yang menyuarakan globalisasi, terlalu banyak yang mengajak, namun, masalah dunia tidak itu saja. Memang, orang-orang lebih mengutamakan masalah lingkungan. Akan tetapi, jika makhluknya saja tidak bersih bagaimana lingkungannya akan bersih.
Sama halnya yang terjadi di Indonesia kini. Pada musim-musim PEMILU kali ini, capres dan cawapres ngomong ini itu di sana sini. Mereka berteriak, “Ini visi saya, blablabla…” atau “Jika saya terpilih menjadi presiden nantinya, maka……bla bla bla…..”. Rata-rata omongan mereka memang baik jika benar-benar terjadi, benar- benar nyata. Tak hanya omong kosong belaka, bukan sekedar rayuan gombal agar rakyat memilih mereka, agar rakyat mencintai mereka. Tapi, berikanlah bukti nyata.
Sudah cukup kami saja yang menggombal pada wanita untuk mendapatkannya, sudah cukup para remaja saja yang bermain cinta dengan satu orang. Janganlah Anda-Anda sang calon pemimpin rakyat juga menggombal pada puluhan juta rakyat Indonesia yang memiliki hak pilihnya. Ibaratnya, jika seorang anak lelaki menggombal pada gadisnya, itu hanya satu. Jika Anda-Anda menggombal pada masyarakat Indonesia yang memiliki hak pilih pilpres, wah betapa berdosanya Anda. Seperti JK bilang saat depat capres di Trans TV mengenai pungli, “…Jika KPK tidak melihat, kan Tuhan melihat….” Saat itu saya hanya tertawa penuh harap, sanggupkah JK melakukan hal seperti itu. Jujur pada diri sendiri, ingat Tuhan yang tak bisa disuap. Apalagi ini masalah omongan, tidak hanya Tuhan yang mendengar, tapi jutaan manusia Indonesia juga mendengar apa yang Anda-Anda sekalian ucapkan. Wah, betapa banyak yang akan menuntut kata-kata Anda semua di kemudian hari. Jika kelak salah satu dari Anda-Anda terpilih menjadi pemimpin bangsa yang daerahnya besar ini.
Yah, saya akui Indonesia memang memiliki daerah yang besar, dan dulunya diagung-agungkan sebagai bangsa yang besar. Namun, saya rasa kini Indonesia tidak lagi bangsa yang besar, hanya daerahnya saja yang besar. Lihatlah bagaimana dunia internasional memandang Indonesia kini. Tak ada yang takut pada Indonesia. Harapan saya, pemimpin terpilih nantinya mampu mengembalikan nama besar Indonesia sebagai bangsa yang besar.
Bagaimanapun juga, kita tetap harus optimis menyongsong PEMILU 2009 kali ini. Semoga siapapun pasangan capres-cawapres terpilih nantinya adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Saya harap tidak ada yang golput. Namun, jika mereka yang golput memang berfikir bahwa tidak ada calon yang pantas menjabat, ya saya ingin mereka juga mampu memberikan solusi terbaik. Jangan cuma golput dan tidak peduli lagi dengan bangsa ini.
Untuk pasangan presiden-wapres terpilih, saya sangat mengharapkan konsistensinya terhadap kata-kata yang telah mereka ucapkan, jangan samapai lupa pada setiap omongannya. Jangan sampai, kta-kata itu hanya menjadi rayuan gombal belaka. Cukup era gombalization berakhir di sini. Lalu, untuk yang gagal terpilih, saya harap mampu bersikap dewasa dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Saya bermimpi melihat petinggi-petinggi Indonesia saling mendukung demi kemajuan bangsa ini. Begitu juga dengan rakyat Indonesia itu sendiri, percayakanlah tongkat kepemimpinan selanjutnya pada presiden terpilih, saling tolong, jangan hanya meminta dan menuntut, juga berusaha. Seperti yang tertera pada Kitab Suci, “Tidak akan berubah nasib suatu kaum (bangsa) selain kaum (bangsa) itu sendiri yang mengubah nasibnya.”
Jujur, saya membutuhkan pemimpin yang pro rakyat, mampu melanjutkan itikad baik pemimpin sebelumnya dan sanggup menyelesaikan masalah bangsa ini secara lebih cepat dan lebih baik.
~vholoz van achey~
20 Mei…
23 May 2009 at 23:51 | In Tulisan | 3 CommentsTak terasa, tanggal 20 Mei lalu, Indonesia telah merayakan hari kebangkitan nasional yang ke 101. Wah, ternyata sudah seabad plus setahun Indonesia telah bangkit. Bangkit darimana ya? Dari kuburkah? Dari keterpurukankah? Atau dari tidurnya? Entah bangkit apa, aku tak mengerti.
Namun, yang ku tahu hanyalah secuil tentang sejarah kebangkitan Indonesia. Yaitu, pada tanggal 20 Mei 1908, para pelajar Indonesia mendirikan sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo. Organisasi bentukan pelajar pertama di Indonesia, dan saat itulah ditandainya kenagkitan nasional dimulai. Oooo…..
Tapi, apa ya makna dari memperingati hari kebangkitan nasional setiap tahunnya? Apakah itu dapat menjadikan Indonesia lebih baik? Apakah itu dapat membangkitkan kembali semangat juang para pemuda Indonesia saat itu? Dan men-transfer semangat juang itu pada pemuda Indonesia zaman sekarang. Apakah itu mungkin? Apakah itu esensi dari memperingati hari kebangkitan nasional? Atau sekedar hari biasa yang memang harus kita lewati setiap tahunnya?
Lalu, apa makna 20 Mei? Mengapa kita harus membuat hari itu spesial? Terlalu banyak pertanyaan yang ku lontarkan, entah pada siapa. Entah siapa yang mau menjawab pertanyaanku? Biarlah aku berpikir sendiri dan termenung sejenak untuk menyadari apa yang telah terjadi oada bangsaku ini, bangsa Indonesia.
Aku pun kini tersentak dan terkejut melihat kondisi bangsaku, apa yang terjadi? Ada apa ini? Apakah aku terlalu lama termenung, hinggaku terlelap dan sedang bermimpi buruk? Tidak, ternyata aku tidak bermimpi. Ini nyata. Ini memang terjadi, mereka memang sedang kelaparan, mereka sedang mengais harta yang tertinggal, mereka sedang menagis meratapi nasibnya, dan mereka masih sengsara. Aku tak sanggup melihatnya. Namun, aku juga tak sanggup berbuat banyak untuk mengubah nasib mereka. Nasib para rakyat yang masih menderita. Apakah ini yang disebut dengan bangkit? Apa Indonesia telah bangkit? Atau kini Indonesia sedang terjatuh atau memang selalu terjatuh?
Apa yang harus kulakukan? Aku ingin melakukan sesuatu untuk mengubah nasib bangsa ini, bangsa Indonesia. Tapi, aku tak sanggup untuk berkata bahwa aku bisa melakukannya. Di lain sisi, aku juga melihat banyak orang-orang berdasi, rapi, serta menggunakan jas mahal itu, meneriaki omong kosong belaka. Ya, walau ada juga sih, yang memang berteriak sesuai keinginan hatinya. Namun, siapa yang menggubris?
Lihatlah, semakin banyak saja orang yang tak peduli lagi dengan siapa yang akan jadi pemimpinnya. Kini, orang-orang hanya sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Mereka tak lagi mau memikirkan bagaimana bangsa ini di masa depan. Mereka hanya berkata,”Kan kita udah milih orang yang bakalan mikirin nasib bangsa ini kemaren, kita kan udah bayar mereka mahal-mahal. Trus, apa dunkz kerjaan mereka kalau bukan mikirin bangsa ini.” Kalimat itu sudah sering terdengar oleh telingaku.
Sepertinya, bangsa ini sedang terpuruk, sangat terpuruk. Aku lihat, mahasiswa saja sudah tak lagi peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Sepertinya, mahasiswa tak tahu lagi dimana mereka harus menempatkan diri. Aku juga bingung, apa yang harus kulakukan? Haruskah kita menunggu untuk kembali dijajah agar mampu kembali bangkit? Haruskah kita menunggu pelajar/mahasiswa seperti di masa lalu untuk mendirikan sebuah organisasi lagi sebagai tanda kebangkitan Indonesia yang kedua kalinya?
Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Seharusnya mahasiswa masa kini itu bangkit, dan bangunlah. Lalu lihatlah apa yang terjadi di sekitar kalian.
“Ayo Bangkitlah Pemuda Indonesia! Wake up and See What Happen Around You!”
by: Vholoz van Achey
Ceritaku
23 May 2009 at 12:53 | In Tulisan | 1 CommentTak ada rasa. Semua hilang, kini semua telah berubah, setiap orang memiliki jalannya masing-masing, mereka menapaki jalan itu dengan kaki mereka masing-masing. Aku juga, aku sedang berjalan di jalur yang tak ku tahu benar atau salah. Aku telah melangkah dan tinggalkan masa lalu. Berada di masa kini dan menuju masa depan yang telah menantiku di sana.
Namun, aku masih ingin kembali ke masa lalu, ke masa-masa itu, masa di saat aku bersama mereka, masa yang penuh dengan kehangatan cinta. Di masa itu, aku temukan kawan, menemukan teman, sahabat …. sungguh, aku merasa dewasa dan bahagia ketika aku masih begitu muda, ketika masih 6 tahun lalu. Kala aku masih tak banyak mengerti tentang hidup, mungkin sama sekali tak ada yang ku mengerti.
Namun, kini aku sendiri di sini. Aku rindu akan masa-masa itu. Aku ingin kembali berada di tengah-tengah hangatnya kebersamaan, kuatnya tali persahabatan. Namun, itu tinggal kenangan. Ketika aku membayangkannya, aku ingin kembali pulang, tapi ku tak bisa. Ingin rasanya aku menangis, namun tangisan tak akan membawaku kembali pada mereka. Sahabat lamaku. Sahabat yang selalu di hati. Sahabat yang tak akan pernah bisa terlupakan. Mereka telah memberiku banyak pelajaran. Kami bersama membangun mimpi, memberi fondasi untuk bangunan impian yang indah. Dimana aku dan sahabatku dapat hidup bahagia. Melihat indahnya senyuman mentari, melihat kilau warna pelangi, dan merasakan hembusan angin yang lembut, membelaiku.
Mungkin hanya aku yang merasa, aku pernah berpikir telah membuang waktuku sia-sia. Terlalu cepat pergi, tanpa bisa merasakannya lama. Merasakan saat-saat hangatnya kebersamaan. Namun, itu telah membekas di hati, selalu teringat di benakku. Tak akan terlupakan oleh jiwaku.
Aku ingin kembali, ingin menjadi anak-anak yang mampu bahagia. Melakukan apa yang ia inginkan, yang dapat membuat dirinya gembira. Hanya itu yang inginku rasakan lagi. Aku ingin merasakan kebebasan itu, I wanna free my mind and my soul. Aku ingin bebas, lepas dari jeratan hidup ini.
Kini, aku mencoba mengumpulkan puzzle-puzzle masa laluku. Puzzle penuh cinta dan harapan. Serta goresan-goresan kasih sayang. Aku ingin itu kembali terlekat, erat. Dan tak akan terlepas lagi. Selamanya, aku terus mencari puzzle-puzzle itu. Seperti pancari harta karun di lautan, aku akan terus mencari jejak mereka, jejak-jejak sehabat untuk puzzleku.
Dan, ketika aku berjalan, melihat orang-orang di sekitarku, aku pun sadar. Semua telah berubah, mereka semakin terasa jauh, namun begitu dekat. Bayangnya masih di sampingku. Ku coba sentuh bayang itu, lalu menghilang. Mereka telah memilih jalan mereka masing-masing, begitu juga aku. Pernah ku berfikir, mengapa Tuhan tak mempersatukan aku dengan mereka selamanya. Mengapa kami tak mampu untuk berjalan bersama. Menuju mimpi dan cita-cita kami. Aku ingin memperbaikinya. Aku ingin memberi jiwa pada puzzle-puzzle itu. Kembali bersatu dan terangkai dengan indah. Kembali berpetualang bersama. Menikmati indahnya hidup, menghirup udara segar di dunia ini. Menuju suatu tempat yang telah kita temukan bersama.
Aku ingin menjadi diriku yang sesungguhnya, aku ingin menjalani hidup ini seperti yang memang ku inginkan. Semoga aku mampu wujudkan semuanya, semua yang kuinginkan. Aku mencoba menjadi diriku sendiri, tanpa mempedulikan orang lain, tanpa peduli akan yang mereka katakan. Aku tak peduli, aku tak peduli lagi dengan mereka. Aku hanya ingin menemukan sosok diriku yang sebenarnya.
Karakter jiwa yang tak dipengaruhi orang lain. Karakter yang ingin kuciptakan sendiri. Seakan-akan akulah penulis cerita di novel kehidupan. Tak seorangpun ku izinkan untuk menjadi editor novelku. Tulisanku, adalah kebebasanku. Begitu juga hidup ini, hidupku adalah apa yang aku ingin lakukan. Aku bebas untuk memilih, dan aku yang akan menerima resiko dengan apa yang kuperbuat. Tanpa menuruti kata-kata orang lain. Tanpa percaya pada mereka, tanpa pengaruh mereka. Akan kujalani hidup ini sesuai dengan maksud hatiku. Karena aku percaya pada kata hatiku. Because, “my heart never lie.”
Aku bukannya egois, namun sepertinya aku memang egois, lihat saja kata-kata di atas. Aku tak peduli pada kata-kata orang lain. Tapi, aku peduli pada apa yang ku lihat. Aku peduli dengan yang mereka rasakan. Tapi, pedulikah mereka padaku??? Adakah yang peduli pada orang sepertiku?? Apa aku harus berubah seperti yang mereka inginkan. Apakah karakter “Aku” pada novel kehidupanku harus berubah??? Haruskah aku menjadi apa yang orang lain inginkan??? Atau menjadi apa yang memang aku inginkan???
Aku pun bertanya pada hati. Namun, ia tak menjawab. Hatiku sepertinya tak mampu menjawab, ia bingung. Logika juga. Aku harus bagaimana?? Apakah aku harus menjadi anak-anak lagi? Tanpa memikirkan apa yang terjadi ke depan. Just let it flow. Tapi, berfikir seperti anak-anak mungkin akan membuatku lebih baik. Namun, aku tak ingin bertingkah kekanak-kanakan. Aku menuju dewasa yang berfikir lepas, seperti aku dahulu. Seperti aku di masa lalu. Sanggupkah aku kembali??
Aku harus percaya, aku harus yakin bahwa aku bisa. Aku harus percaya pada diriku sendiru. Aku mampu jadi lebih baik, tanpa harus tenggelam lebih dalam. Lebih baik aku menyelam jauh ke dasar untuk melihat bagaimana keadaan di sana. Agar aku sadar telah berada di permukaan dan dapat menghirup udara segar. Melihat mentari bercahaya, merasakan kehangatannya.
Semua belum berakhir, perjalananku masih panjang, masih begitu jauh dari tujuan. Aku rasa, aku belum mendapatkan apa yang sesungguhnya ku inginkan. Aku belum memiliki apa pinta hatiku. Logikaku belum mengerti apa maksud hati. Aku harus bisa menyatukan hati dan logika. Aku ingin mereka sejalan dan tidak membuatku bingung.
Kini, aku masih terus berlayar menuju hari esok. Masih mencoba temukan puzzle-puzzle yang hilang. Suatu saat, aku percaya bahwa aku dapat menemukan segalanya. Aku dapat meraih yang ku inginkan. Puzzle-puzzle itu tak akan menyebrangi galaksi. Mereka tak akan mampu keluar dari bumi. Karena magnet cinta telah mengikat puzzle-puzzle itu sangat erat.
Di suatu tempat, di suatu saat nanti, aku akan membuat puzzle-puzzle itu kembali bercahaya. Menyatu menjadi yang terindah. Kenangan manis yang tak akan terlupakan. Tak usah ku tenggelam dalam rindu, saatnya untukku keluar, melihat dunia. Tak hanya duduk dan termenung di muka LCD 14” ini. Kini, saatnya aku beranjak pergi, arungi hidupku. Salam perpisahan untuk sahabat. Maaf, aku tetap harus pergi dan lanjutkan perjalananku. Aku akan menantimu di penghujung ceritaku, cerita kita. Atau kau akan menantiku di sana.
Selamat tinggal teman, selamat tinggal sahabatku, selamat jalan…. Semoga kita dapat bertemu lagi dengan genggaman mimpi dan cita-cita di tangan. Tak hanya di angan. Puzzle itu akan tetap terus ku cari, agar aku bisa belajar dari pengalaman. Agar aku bisa mengenang masa laluku dengan benar. Agar aku dapat memaknai setiap langkah di hidupku ini.
Aku bisa jadi diriku sendiri untuk meraih apa yang kuinginkan. Tanpa harus menjadi orang lain. Aku hidup untuk kebebasanku, aku lepas dan bahagia. Itu tujuanku. Tulisanku tak akan berhenti di sini. Masih banyak cerita yang menantiku di depan. Sejarahku masih terlalu jauh dari sempurna. Cerita ini akan terus berlanjut hingga akhir menjelang yang tak ku tahu kapan ia datang.
Bandung, 18 May 2009
By: Vholoz van Achey
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.