Kemarin untuk Hari Ini

23 October 2009 at 05:01 | In Coretan | 2 Comments

Aku berjalan menelusuri ruang waktu. Meninggalkan hari yang lalu. Aku pernah berjumpa dengan kemarin dan hari ini. Namun, akankah aku berjumpa dengan esok? Itu sebuah pertanyaan yang tak akan mampu ku jawab jika esok belum menjadi hari ini. Bagaimana menurutmu?

Kemarin, aku bukan apa-apa
Hari ini, aku menjadi sesuatu
Esok, aku adalah segalanya

Kemarin, aku tak punya apa-apa
Hari ini, aku punya sesuatu
Esok, aku miliki segalanya

Yesterday, I’m nothing for someone
Today, I’m something for someone
Tomorrow, I’m everything for someone

Itulah prinsip hidup yang ingin aku kembangkan saat ini. “From nothing to something, and from something to everything”. Seperti kata yang sering didengung-dengungkan, “From zero to hero, and now, from hero to superhero”

Laluilah kemarin untuk hidup hari ini, jalanilah hari ini untuk esok yang lebih baik. Itulah kata-kata yang terlintas di benakku sesaat lalu, entah apa yang akan ku raih esok, itu semua bergantung pada apa yang telah aku perbuat hari ini dan hari kemarin yang telah lalu. Satu hal yang kau lakukan akan berandil pada apa yang akan terjadi nantinya.

Bandung, 30 Agustus 2009
by: Vholoz van Achey

Langit Ganesha

16 October 2009 at 04:09 | In Coretan | Leave a Comment

Selamat datang muda-mudi Ganesha
Selamat datang di kampus gajah, kampus Ganesha, kampus kita

Lihatlah langit di atas kalian
Lihatlah langit Ganesha yang sepertinya cerah ini
Tataplah langit Ganesha kita
Renungkan…

Akankah langit Ganesha tetap cerah esok?
Akankah langit Ganesha meneteskan air mata esok?
Akankah langit Ganesha mendung esok?
Apa yang akan terjadi pada langit Ganesha kita?

Semua tergantung padaku, pada kami, dan pada kalian,
Muda-Mudi Ganesha…
Semua tergantung pada kita

2009…
Rautlah wajah langit Ganesha
Ukir kenangan indah untuk langit Ganesha
Biarkan ia jadi saksi
Biarkan langit Ganesha menjadi saksi
Dahsyatnya gempuran semangat 2009
Semangat yang menggebu
dan torehkan jejak sejarah untuknya, untuk Ganesha, untuk kita

untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater…

Bandung, 18 Agustus 2009
by: Vholoz van Achey

Hari Ini…

16 October 2009 at 04:07 | In Coretan | Leave a Comment

Hari ini…
Seperti biasa, kaki ini melangkah keluar kamar kost
Berlari menuju ruang kelas di lantai tiga gedung kuliah itu
Berharap meraih tetesan fikiran demi menatap masa depan

Selagi mata ini bisa melihat kehidupan hari ini
Aku memalingkan sejenak otakku untuk berpikir tentang negeri kecilku, kampus Ganesha
Mencoba renungkan realita dalam koran-koran itu

de ja vu…
Mungkin itu yang terlintas di benakku ketika melewati sesudut kota ini
Seperti aku pernah lihat ini pada kemarin yang telah lalu

Jika aku perhatikan…
Hari ini penuh warna seperti kemarin…

Hari ini…
Bapak itu berjalan resah
Terpikir nasib dua bocah yang ia naungi

Hari ini…
Nyonya tua itu masih meneteskan air mata
Seperti biasa, ia membisu di dalam dekapan kursi goyang yang entah milik siapa

Hari ini…
Anak itu masih mampu tertawa gembira
Bercengkrama dengan rekan setianya
Tanpa terpikir esok makan apa

Hari ini…
Om-om berdasi itu masih rapi dengan jas hitam mahalnya
Menaiki jaguar megah nan berkilau
Memedihkan mata para orang yang menganut tren bulukan dan koyak itu
Membuat pejabat berseragam itu ngiler meneteskan liur dan menghirupnya kembali

Dengan tren koyaknya, orang itu masih menengadahkan tangan meminta secuil beras penyangga perut
Pejabat berseragam itu mulai bergiat mencari nafkah
Menambah penghasilan demi kejayaan cacing perut yang membuncit
Bekerja part-time sebagai mesin penyedot uang rakyat

Seperti biasa, hari ini…
Jalanan penuh dengan showroom mobil plus manusia yang duduk menyetir di atasnya
Dihiasi oleh bebek-bebek yang berlenggak-lenggok bak di atas catwalk jalanan
Sembari mendengarkan lantunan nada dari gitar hingga biola yang meminta receh

Apakah ini yang akan ku lihat esok?
Aku tak tahu jawabnya,
Mungkin kau tahu, atau tak pernah terfikir olehmu tentang ini?
Kurasa, hanya Tuhan yang tahu…

Namun, otakku, ototku, dan hatiku…
Akan terus berusaha
Bersama beberapa orang dari kaumku
Semoga tetesan fikiran yang ku kejar
Sanggup mengubah esok jadi lebih baik

Bandung, 27 Agustus 2009
by: Vholoz van Achey

Ranah Minangku

16 October 2009 at 04:06 | In Coretan | Leave a Comment

Tunas tunas bangsa…
Satu per satu dari mereka berjatuhan
Satu per satu dari mereka berguguran

Tongkat estafet yang semula tidak utuh lagi
Semakin tidak jelas nasibnya
Kepada siapakah ia akan berpegang?

Intan intan keluarga…
Hilang, hancur, dan kilauannya pun semakin redup
Siapakah yang akan mampu menggantikan intan ini?

Tonggak tonggak penopang bundo kanduang
Telah retak bahkan patah
Tak mampu menyangga kehidupan lagi

Apakah yang akan terjadi esok?
Akankah esok mentari masih menjelang?
Akankah mentari masih menerangi ranah Minang?

Tetaplah teguh kawan…
Tetaplah menatap masa depan…
Harapan itu masih ada…
Dan akan selalu ada jika Tuhan belum berkata “akhir”

Tongkat estafet itu akan kita raih, kawan…
Kitalah intan intan keluarga yang akan berkilau
Kitalah tonggak tonggak penopang rumah gadang selanjutnya
Kitalah para pengembara pendidikan bundo kanduang
Mari kita buat mentari tetap menyinari ranah Minang

Bandung, 1 Oktober 2009
Vholoz van Achey

Duka Ibu Pertiwi

16 October 2009 at 04:02 | In Coretan | Leave a Comment

Ibu Pertiwi sedang dirundung sedih
Air matanya tak tertahankan
Bencana itu datang lagi hampiri Indonesia
Meluluhlantakkan wajah wajah pulau Sumatra dan Jawa
Mengikis bahagia dan menyesakkan jiwa

Namun…
Di kala Ibu Pertiwi bersedih…
Orang orang ini masih bangga
Orang orang ini masih bahagia
Mengenakan kemewahan mereka
Walau mereka tahu…
Tangisan meradang
Tangisan membanjiri wajah wajah Indonesia

Aku lihat orang orang di gedung itu
Masih mampu tersenyum lebar penuh tawa…
Sementara itu…
Saudara saudara mereka tidak tahu lagi harus tinggal dimana,
tidak memiliki lagi tonggak tonggak penopang keluarga…
Mereka pun juga kehilangan intan intan masa depan,
dan langit pun suram seketika

Hati ini tak mampu ku menahannya
Batinku terluka
Ia merintih sakit, tak mampu berbuat banyak untuk Indonesia
Tak mampu memberi sedikit senyuman untuk Ibu Pertiwi

Aku juga sadar…
Mungkin Aku bukanlah golongan orang orang yang berfikir solutif untuk permasalahan bangsa
Mungkin Aku bukanlah bagian bagian kontributif bagi Ibu Pertiwi
Tapi Aku hanyalah setitik debu dari kaumku, mahasiswa…
Kata orang, kaumku ini diisi oleh manusia manusia berintelektual tinggi
Namun tak semuanya yang berhati

Sama saja dengan para alumnus mahasiswa itu
Orang orang yang kini duduk bahkan tertidur di kursi empuk yang basah dengan lumuran uang
Orang orang yang tertawa bermandikan uang rakyat yang tak mampu memberi setimpal pada rakyat
Mereka tak sadar…
Hanya berfikir tentang kepentingan pribadi
Tak ada salahnya kita berfikir dan bertindak normatif
Jika memang itu masih mampu kita lakukan

Hingga Ibu Pertiwi terlihat makin bersedih
Ia berduka melihat Sumatra dan Jawa yang terluka
Ia bersedih melihat tampang tampang rapih, mengenakan jas dan berkebaya, serta berdandan menor itu hanya mampu tertawa di kursi empuk dalam gedung itu
Belum lagi masalah masalah budaya yang katanya dicaplok tetangga sebelah
Belum lagi masalah masalah seni berkorupsi yang tengah mewabah di negeri tercinta
Belum lagi pertahanan dan keamanan bangsa yang masih dipertanyakan
Terlalu banyak duka Ibu Pertiwi
Sampai sampai, aku pun tak mampu untuk mengukirnya di sini

Walau begitu…
Aku masih yakin
Harapan itu masih ada
Aku dan kaumku, mahasiswa…
Akan mampu memberi sedikit senyum untuk Ibu Pertiwi
Memberi apa yang mampu kami beri
Berlogika dengan benar
Dan bertindak dengan hati
Menyatukan jiwa jiwa, untuk saling berbagi
Memberi rasa peduli bagi kawan kawanku di sana

Bandung, 2 Oktober 2009
Vholoz van Achey

Percayalah pada Hati

27 June 2009 at 00:16 | In Coretan | Leave a Comment

senyuman…
kadang tak berarti
kadang hanya kebohongan
kadang hanyalah tipuan

tangisan…
penuh dengan rasa
sulit terungkap
namun, tak selalu sebuah fakta

senyuman dan tangisan
silih berganti temani dirimu
aku juga…

saat kau menangis, aku tersenyum
saat kau tersenyum, aku tertawa
saat kau tertawa, aku bahagia
saat kau bahagia, aku menangis

jangan kau artikan tangisan adalah kesedihan
jangan kau maknai senyuman adalah bahagia
kadang semua hanyalah sebuah kepalsuan

ingatlah…
mata tak selalu melihat dengan benar
telinga kadang mendengar kebohongan belaka
hidung hanya mencium bau parfum itu, bukan wanginya tubuhmu
mulut juga tak selamanya sepakat dengan lidah untuk berkata iya
tangan pun pernah menyentuh yang tak nyata

hey kau!
jangan percaya pada ekspresi
jangan pernah lihat rawut wajah itu

percayalah pada hatimu
biarkan ia berucap bebas
lepaskanlah jiwamu
biarkan ia memeluk jiwaku

semua itu
tidaklah susah
cukup kau tatap mataku dan bicaralah pada hatiku
agar jiwaku mendengar lantunan nadamu dalam damainya

Bandung, 24 Juni 2009
by: Vholoz van Achey

I’m not Crazy Enough

20 June 2009 at 22:49 | In Coretan | 3 Comments

Aku berjalan sendiri di bawah terik matahari

Sinarnya sangat terang penuh kehangatan

Hingga membuat langit berpeluh menagis murung

Menjatuhkan tetes demi tetes air ke muka bumi

Aku hanya terkejut…

Terpana melihat dunia

Begitu cepat berubah, tak kondusif

Gejolak membara jiwa

Telah tertular pada duniaku

Duniamu, dunia kita

Atau bukan dunia siapa-siapa

Gejolak itu, adalah gejolak matahari

Gejolak langit, serta bumi dan kawan-kawannya

Gejolak yang indah dengan penampakan mejikuhibiniu

Dengan semangat petir yang mengaum

Dengan sentuhan badai yang luar biasa

Hahahaha…

Aku mulai terlihat gila

Ada yang setuju?

Apa ini?

Apa yang ku tulis?

Akulah matahari

Akulah langit

Akulah bumi

Siapa aku?

“Hey!”, Seseorang meneriakiku

dia berteriak lantang di depan telingaku,”Kau bukan langit! Kau bukan matahari! Kau bukan bumi! Kau itu mejikuhibiniu!”

ah… dasar orang bodoh…

lalu, ada lagi gadis yang berteriak dengan lembut,”Kau bukan mejikuhibiniu! Kau itu badaiku! Kau juga petirku!”

walah… dasar wanita… mudah saja ku kibuli, atau dia yang kibuli aku?

Hahahaha…

Sebenarnya, aku ini bukan siapa-siapa

Aku memang bukanlah apa-apa yang tak tahu ada di mana dan mengapa

Yang jelas, Aku adalah aku

Aku yang belum cukup berotot untuk jadi raja rimba

Aku yang belum cukup liar untuk dikejar-kejar wanita

Aku yang belum cukup lihai untuk berkorupsi ria

Aku yang belum cukup nakal untuk masuk penjara

Aku yang belum cukup amal untuk mati saat ini

Aku yang belum cukup bandel untuk di DO

Aku yang belum cukup gila untuk masuk RSJ

Aku yang belum cukup umur untuk dapatkan KTP dari si lurah

Aku yang belum cukup pintar untuk dapatkan nobel perdamaian

Aku yang belum cukup acak-acakan untuk setara dengan Einstein

Serta aku yang ‘blablabla’ yang aku tahu atau kau yang tahu?

Sekali lagi, aku adalah aku

Aku yang tak tahu apa-apa…

Aku harus melangkah lebih jauh,

Untuk meningkatkan levelku, level kegilaanku…

Agar aku mengerti tentang semua yang ingin ku mengerti…

Saatnya ku berteriak dalam hati,”I am not crazy enough, so I have to increase my crazy level…”

Sekarang, I have to go… Goodbye my mom, goodbye my father, goodbye my brother & my sister, goodbye my girl, goodbye my friends, goodbye my teacher, goodbye everyone, goodbye everything…

Ada yang mau ikut denganku?

Bandung, 20 Juni 2009

by: Vholoz van Achey

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.