Percayalah pada Hati
27 June 2009 at 00:16 | In Coretan | Leave a Commentsenyuman…
kadang tak berarti
kadang hanya kebohongan
kadang hanyalah tipuan
tangisan…
penuh dengan rasa
sulit terungkap
namun, tak selalu sebuah fakta
senyuman dan tangisan
silih berganti temani dirimu
aku juga…
saat kau menangis, aku tersenyum
saat kau tersenyum, aku tertawa
saat kau tertawa, aku bahagia
saat kau bahagia, aku menangis
jangan kau artikan tangisan adalah kesedihan
jangan kau maknai senyuman adalah bahagia
kadang semua hanyalah sebuah kepalsuan
ingatlah…
mata tak selalu melihat dengan benar
telinga kadang mendengar kebohongan belaka
hidung hanya mencium bau parfum itu, bukan wanginya tubuhmu
mulut juga tak selamanya sepakat dengan lidah untuk berkata iya
tangan pun pernah menyentuh yang tak nyata
hey kau!
jangan percaya pada ekspresi
jangan pernah lihat rawut wajah itu
percayalah pada hatimu
biarkan ia berucap bebas
lepaskanlah jiwamu
biarkan ia memeluk jiwaku
semua itu
tidaklah susah
cukup kau tatap mataku dan bicaralah pada hatiku
agar jiwaku mendengar lantunan nadamu dalam damainya
Bandung, 24 Juni 2009
by: Vholoz van Achey
I’m not Crazy Enough
20 June 2009 at 22:49 | In Coretan | 3 CommentsAku berjalan sendiri di bawah terik matahari
Sinarnya sangat terang penuh kehangatan
Hingga membuat langit berpeluh menagis murung
Menjatuhkan tetes demi tetes air ke muka bumi
Aku hanya terkejut…
Terpana melihat dunia
Begitu cepat berubah, tak kondusif
Gejolak membara jiwa
Telah tertular pada duniaku
Duniamu, dunia kita
Atau bukan dunia siapa-siapa
Gejolak itu, adalah gejolak matahari
Gejolak langit, serta bumi dan kawan-kawannya
Gejolak yang indah dengan penampakan mejikuhibiniu
Dengan semangat petir yang mengaum
Dengan sentuhan badai yang luar biasa
Hahahaha…
Aku mulai terlihat gila
Ada yang setuju?
Apa ini?
Apa yang ku tulis?
Akulah matahari
Akulah langit
Akulah bumi
Siapa aku?
“Hey!”, Seseorang meneriakiku
dia berteriak lantang di depan telingaku,”Kau bukan langit! Kau bukan matahari! Kau bukan bumi! Kau itu mejikuhibiniu!”
ah… dasar orang bodoh…
lalu, ada lagi gadis yang berteriak dengan lembut,”Kau bukan mejikuhibiniu! Kau itu badaiku! Kau juga petirku!”
walah… dasar wanita… mudah saja ku kibuli, atau dia yang kibuli aku?
Hahahaha…
Sebenarnya, aku ini bukan siapa-siapa
Aku memang bukanlah apa-apa yang tak tahu ada di mana dan mengapa
Yang jelas, Aku adalah aku
Aku yang belum cukup berotot untuk jadi raja rimba
Aku yang belum cukup liar untuk dikejar-kejar wanita
Aku yang belum cukup lihai untuk berkorupsi ria
Aku yang belum cukup nakal untuk masuk penjara
Aku yang belum cukup amal untuk mati saat ini
Aku yang belum cukup bandel untuk di DO
Aku yang belum cukup gila untuk masuk RSJ
Aku yang belum cukup umur untuk dapatkan KTP dari si lurah
Aku yang belum cukup pintar untuk dapatkan nobel perdamaian
Aku yang belum cukup acak-acakan untuk setara dengan Einstein
Serta aku yang ‘blablabla’ yang aku tahu atau kau yang tahu?
Sekali lagi, aku adalah aku
Aku yang tak tahu apa-apa…
Aku harus melangkah lebih jauh,
Untuk meningkatkan levelku, level kegilaanku…
Agar aku mengerti tentang semua yang ingin ku mengerti…
Saatnya ku berteriak dalam hati,”I am not crazy enough, so I have to increase my crazy level…”
Sekarang, I have to go… Goodbye my mom, goodbye my father, goodbye my brother & my sister, goodbye my girl, goodbye my friends, goodbye my teacher, goodbye everyone, goodbye everything…
Ada yang mau ikut denganku?
Bandung, 20 Juni 2009
by: Vholoz van Achey
Gombalization
19 June 2009 at 22:26 | In Tulisan | 3 CommentsKata orang ini era globalisasi, alias era pemanasan global. Era yang memusingkan semua orang. Era kesadaran dan semakin ketidaksadaran manusia dalam menjaga lingkungannya. Berbagai masalah timbul dan saling menimbulkan masalah baru. Mulai dari penebangan hutan secara besar-besaran yang berdampak pada berkurangnya lahan paru-paru bumi, industri di negara-negara maju yang mengikuti nafsu dunia belaka yang menyebabkan produksi CO2 berlebih, dilanjutkan dengan kerusakan lapisan ozon bumi, disebut-sebutlah efek rumah kaca.
Saya melihat orang-orang Indonesia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, murid hingga guru, tidak semuanya mengeri apa itu efek rumah kaca. Mereka masih bingung. Tapi, pada artikel ini, saya tidak akan membahas tentang globalisasi, tapi GOMBALIZATION. Karena sudah terlalu banyak yang menyuarakan globalisasi, terlalu banyak yang mengajak, namun, masalah dunia tidak itu saja. Memang, orang-orang lebih mengutamakan masalah lingkungan. Akan tetapi, jika makhluknya saja tidak bersih bagaimana lingkungannya akan bersih.
Sama halnya yang terjadi di Indonesia kini. Pada musim-musim PEMILU kali ini, capres dan cawapres ngomong ini itu di sana sini. Mereka berteriak, “Ini visi saya, blablabla…” atau “Jika saya terpilih menjadi presiden nantinya, maka……bla bla bla…..”. Rata-rata omongan mereka memang baik jika benar-benar terjadi, benar- benar nyata. Tak hanya omong kosong belaka, bukan sekedar rayuan gombal agar rakyat memilih mereka, agar rakyat mencintai mereka. Tapi, berikanlah bukti nyata.
Sudah cukup kami saja yang menggombal pada wanita untuk mendapatkannya, sudah cukup para remaja saja yang bermain cinta dengan satu orang. Janganlah Anda-Anda sang calon pemimpin rakyat juga menggombal pada puluhan juta rakyat Indonesia yang memiliki hak pilihnya. Ibaratnya, jika seorang anak lelaki menggombal pada gadisnya, itu hanya satu. Jika Anda-Anda menggombal pada masyarakat Indonesia yang memiliki hak pilih pilpres, wah betapa berdosanya Anda. Seperti JK bilang saat depat capres di Trans TV mengenai pungli, “…Jika KPK tidak melihat, kan Tuhan melihat….” Saat itu saya hanya tertawa penuh harap, sanggupkah JK melakukan hal seperti itu. Jujur pada diri sendiri, ingat Tuhan yang tak bisa disuap. Apalagi ini masalah omongan, tidak hanya Tuhan yang mendengar, tapi jutaan manusia Indonesia juga mendengar apa yang Anda-Anda sekalian ucapkan. Wah, betapa banyak yang akan menuntut kata-kata Anda semua di kemudian hari. Jika kelak salah satu dari Anda-Anda terpilih menjadi pemimpin bangsa yang daerahnya besar ini.
Yah, saya akui Indonesia memang memiliki daerah yang besar, dan dulunya diagung-agungkan sebagai bangsa yang besar. Namun, saya rasa kini Indonesia tidak lagi bangsa yang besar, hanya daerahnya saja yang besar. Lihatlah bagaimana dunia internasional memandang Indonesia kini. Tak ada yang takut pada Indonesia. Harapan saya, pemimpin terpilih nantinya mampu mengembalikan nama besar Indonesia sebagai bangsa yang besar.
Bagaimanapun juga, kita tetap harus optimis menyongsong PEMILU 2009 kali ini. Semoga siapapun pasangan capres-cawapres terpilih nantinya adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Saya harap tidak ada yang golput. Namun, jika mereka yang golput memang berfikir bahwa tidak ada calon yang pantas menjabat, ya saya ingin mereka juga mampu memberikan solusi terbaik. Jangan cuma golput dan tidak peduli lagi dengan bangsa ini.
Untuk pasangan presiden-wapres terpilih, saya sangat mengharapkan konsistensinya terhadap kata-kata yang telah mereka ucapkan, jangan samapai lupa pada setiap omongannya. Jangan sampai, kta-kata itu hanya menjadi rayuan gombal belaka. Cukup era gombalization berakhir di sini. Lalu, untuk yang gagal terpilih, saya harap mampu bersikap dewasa dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Saya bermimpi melihat petinggi-petinggi Indonesia saling mendukung demi kemajuan bangsa ini. Begitu juga dengan rakyat Indonesia itu sendiri, percayakanlah tongkat kepemimpinan selanjutnya pada presiden terpilih, saling tolong, jangan hanya meminta dan menuntut, juga berusaha. Seperti yang tertera pada Kitab Suci, “Tidak akan berubah nasib suatu kaum (bangsa) selain kaum (bangsa) itu sendiri yang mengubah nasibnya.”
Jujur, saya membutuhkan pemimpin yang pro rakyat, mampu melanjutkan itikad baik pemimpin sebelumnya dan sanggup menyelesaikan masalah bangsa ini secara lebih cepat dan lebih baik.
~vholoz van achey~
Bunga Hatiku
17 June 2009 at 00:04 | In Coretan | Leave a CommentKetika ku pergi..
Jelas ku ingin kembali
segera…
Ketika ku semakin jauh melangkah…
Jelas ku lelah menapaki hari-hari di depan
Namun, sesaat ku terlepas…
Ku hirup udara segar
dan nikamti setangkai bunga mawar indah yang berduri
Harum tubuhnya tercium oleh jiwa…
Lembut sentuhan durinya membekas di hatiku…
Buat ku terlelap hingga esok menjelang…
Kembali ku pergi…
Lanjutkan perjalanan yang tak akan pernah usai…
melupakan mawar itu…
mencari melati yang telah menanti…
mengejar anggek yang jauh di belakangku…
Perjalanan ini semakin keras
Dan semakin indah dengan bunga-bunga hati
yang akan mekar di bumi masa depanku…
Bandung, 13 Juni 2009
by: Vholoz van Achey
Kau… Indah
16 June 2009 at 23:33 | In Coretan | Leave a Commentkau terlihat begitu indah
aku pun tersanjung ketika melihat kecantikanmu
namun, kau tak nyata ada di sampingku kini
aku hanya melihat bayangmu indah di depan bingkai persegi ini
aku pun berangan kau dapat kumiliki
aku ingin kau ada di sisiku
ku pinta kau datang padaku
kunjungi hatiku
atau aku yang akan menjemputmu
kau cukup memilih
jujur aku mencintaimu
akan kulakukan yang kau pinta asal kau selalu ada untukku
hey indah…
datanglah padaku
peluk erat diriku
beri kehangatanmu untuk jiwaku ini
jiwa yang kedinginan
karena tak miliki selimut cinta untuknya
hey gadis manisku…
tunjukkanlah kehangatan wanita padaku
ajarilah aku bagaimana mencintaimu
agar kau selalu ada di sini, di hatiku
agar aku selalu di hatimu
aku yakin…
suatu saat, kita akan berjumpa
di ruang cinta penuh hangat kasih sayang
di ruang itu…
hanya ada aku, kau, dan cinta kita
sungguh…
aku menyayangimu sepenuh hatiku
jujur…
aku hanya ingin kau jadi milikku
itu saja
Bandung, 8 Juni 2009
by: Vholoz va Achey
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.