20 Mei…

23 May 2009 at 23:51 | In Tulisan | 3 Comments

Tak terasa, tanggal 20 Mei lalu, Indonesia telah merayakan hari kebangkitan nasional yang ke 101. Wah, ternyata sudah seabad plus setahun Indonesia telah bangkit. Bangkit darimana ya? Dari kuburkah? Dari keterpurukankah? Atau dari tidurnya? Entah bangkit apa, aku tak mengerti.

 

Namun, yang ku tahu hanyalah secuil tentang sejarah kebangkitan Indonesia. Yaitu, pada tanggal 20 Mei 1908, para pelajar Indonesia mendirikan sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo. Organisasi bentukan pelajar pertama di Indonesia, dan saat itulah ditandainya kenagkitan nasional dimulai. Oooo…..

 

Tapi, apa ya makna dari memperingati hari kebangkitan nasional setiap tahunnya? Apakah itu dapat menjadikan Indonesia lebih baik? Apakah itu dapat membangkitkan kembali semangat juang para pemuda Indonesia saat itu? Dan men-transfer semangat juang itu pada pemuda Indonesia zaman sekarang. Apakah itu mungkin? Apakah itu esensi dari memperingati hari kebangkitan nasional? Atau sekedar hari biasa yang memang harus kita lewati setiap tahunnya?

 

Lalu, apa makna 20 Mei? Mengapa kita harus membuat hari itu spesial? Terlalu banyak pertanyaan yang ku lontarkan, entah pada siapa. Entah siapa yang mau menjawab pertanyaanku? Biarlah aku berpikir sendiri dan termenung sejenak untuk menyadari apa yang telah terjadi oada bangsaku ini, bangsa Indonesia.

 

Aku pun kini tersentak dan terkejut melihat kondisi bangsaku, apa yang terjadi? Ada apa ini? Apakah aku terlalu lama termenung, hinggaku terlelap dan sedang bermimpi buruk? Tidak, ternyata aku tidak bermimpi. Ini nyata. Ini memang terjadi, mereka memang sedang kelaparan, mereka sedang mengais harta yang tertinggal, mereka sedang menagis meratapi nasibnya, dan mereka masih sengsara. Aku tak sanggup melihatnya. Namun, aku juga tak sanggup berbuat banyak untuk mengubah nasib mereka. Nasib para rakyat yang masih menderita. Apakah ini yang disebut dengan bangkit? Apa Indonesia telah bangkit? Atau kini Indonesia sedang terjatuh atau memang selalu terjatuh?

 

Apa yang harus kulakukan? Aku ingin melakukan sesuatu untuk mengubah nasib bangsa ini, bangsa Indonesia. Tapi, aku tak sanggup untuk berkata bahwa aku bisa melakukannya. Di lain sisi, aku juga melihat banyak orang-orang berdasi, rapi, serta menggunakan jas mahal itu, meneriaki omong kosong belaka. Ya, walau ada juga sih, yang memang berteriak sesuai keinginan hatinya. Namun, siapa yang menggubris?

 

Lihatlah, semakin banyak saja orang yang tak peduli lagi dengan siapa yang akan jadi pemimpinnya. Kini, orang-orang hanya sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Mereka tak lagi mau memikirkan bagaimana bangsa ini di masa depan. Mereka hanya berkata,”Kan kita udah milih orang yang bakalan mikirin nasib bangsa ini kemaren, kita kan udah bayar mereka mahal-mahal. Trus, apa dunkz kerjaan mereka kalau bukan mikirin bangsa ini.” Kalimat itu sudah sering terdengar oleh telingaku.

 

Sepertinya, bangsa ini sedang terpuruk, sangat terpuruk. Aku lihat, mahasiswa saja sudah tak lagi peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Sepertinya, mahasiswa tak tahu lagi dimana mereka harus menempatkan diri. Aku juga bingung, apa yang harus kulakukan? Haruskah kita menunggu untuk kembali dijajah agar mampu kembali bangkit? Haruskah kita menunggu pelajar/mahasiswa seperti di masa lalu untuk mendirikan sebuah organisasi lagi sebagai tanda kebangkitan Indonesia yang kedua kalinya?

 

Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Seharusnya mahasiswa masa kini itu bangkit, dan bangunlah. Lalu lihatlah apa yang terjadi di sekitar kalian.

 

 

Ayo Bangkitlah Pemuda Indonesia! Wake up and See What Happen Around You!”

 

by: Vholoz van Achey

Aku… Tenggelam

23 May 2009 at 22:53 | In Coretan | Leave a Comment

by: Achy

 

Aku bimbang…

di setiap persimpangan

ntuk lanjutkan perjalanan

 

Aku hancur…

di setiap pertempuran

ntuk raih kemenangan

 

Aku binasa…

di setiap masa

di tengah sisa-sisa kehidupan

 

Aku sadar…

kadanga diriku tak berharga

tak punyai apa-apa

tak miliki makna

tak berarti

 

Seperti sebuah kekalahan

yang begitu telak

seperti sebuah tamparan

yang begitu keras

badai ini

menerpa tulang-tulangku

hingga ku remuk

dan tenggelam

dalam lautan kegelapan

 

 

 

 

Bandung, 6 Desember 2008

Ceritaku

23 May 2009 at 12:53 | In Tulisan | 1 Comment

Tak ada rasa. Semua hilang, kini semua telah berubah, setiap orang memiliki jalannya masing-masing, mereka menapaki jalan itu dengan kaki mereka masing-masing. Aku juga, aku sedang berjalan di jalur yang tak ku tahu benar atau salah. Aku telah melangkah dan tinggalkan masa lalu. Berada di masa kini dan menuju masa depan yang telah menantiku di sana.

Namun, aku masih ingin kembali ke masa lalu, ke masa-masa itu, masa di saat aku bersama mereka, masa yang penuh dengan kehangatan cinta. Di masa itu, aku temukan kawan, menemukan teman, sahabat …. sungguh, aku merasa dewasa dan bahagia ketika aku masih begitu muda, ketika masih 6 tahun lalu. Kala aku masih tak banyak mengerti tentang hidup, mungkin sama sekali tak ada yang ku mengerti.

Namun, kini aku sendiri di sini. Aku rindu akan masa-masa itu. Aku ingin kembali berada di tengah-tengah hangatnya kebersamaan, kuatnya tali persahabatan. Namun, itu tinggal kenangan. Ketika aku membayangkannya, aku ingin kembali pulang, tapi ku tak bisa. Ingin rasanya aku menangis, namun tangisan tak akan membawaku kembali pada mereka. Sahabat lamaku. Sahabat yang selalu di hati. Sahabat yang tak akan pernah bisa terlupakan. Mereka telah memberiku banyak pelajaran. Kami bersama membangun mimpi, memberi fondasi untuk bangunan impian yang indah. Dimana aku dan sahabatku dapat hidup bahagia. Melihat indahnya senyuman mentari, melihat kilau warna pelangi, dan merasakan hembusan angin yang lembut, membelaiku.

Mungkin hanya aku yang merasa, aku pernah berpikir telah membuang waktuku sia-sia. Terlalu cepat pergi, tanpa bisa merasakannya lama. Merasakan saat-saat hangatnya kebersamaan. Namun, itu telah membekas di hati, selalu teringat di benakku. Tak akan terlupakan oleh jiwaku.

Aku ingin kembali, ingin menjadi anak-anak yang mampu bahagia. Melakukan apa yang ia inginkan, yang dapat membuat dirinya gembira. Hanya itu yang inginku rasakan lagi. Aku ingin merasakan kebebasan itu, I wanna free my mind and my soul. Aku ingin bebas, lepas dari jeratan hidup ini.

Kini, aku mencoba mengumpulkan puzzle-puzzle masa laluku. Puzzle penuh cinta dan harapan. Serta goresan-goresan kasih sayang. Aku ingin itu kembali terlekat, erat. Dan tak akan terlepas lagi. Selamanya, aku terus mencari puzzle-puzzle itu. Seperti pancari harta karun di lautan, aku akan terus mencari jejak mereka, jejak-jejak sehabat untuk puzzleku.

Dan, ketika aku berjalan, melihat orang-orang di sekitarku, aku pun sadar. Semua telah berubah, mereka semakin terasa jauh, namun begitu dekat. Bayangnya masih di sampingku. Ku coba sentuh bayang itu, lalu menghilang. Mereka telah memilih jalan mereka masing-masing, begitu juga aku. Pernah ku berfikir, mengapa Tuhan tak mempersatukan aku dengan mereka selamanya. Mengapa kami tak mampu untuk berjalan bersama. Menuju mimpi dan cita-cita kami. Aku ingin memperbaikinya. Aku ingin memberi jiwa pada puzzle-puzzle itu. Kembali bersatu dan terangkai dengan indah. Kembali berpetualang bersama. Menikmati indahnya hidup, menghirup udara segar di dunia ini. Menuju suatu tempat yang telah kita temukan bersama.

Aku ingin menjadi diriku yang sesungguhnya, aku ingin menjalani hidup ini seperti yang memang ku inginkan. Semoga aku mampu wujudkan semuanya, semua yang kuinginkan. Aku mencoba menjadi diriku sendiri, tanpa mempedulikan orang lain, tanpa peduli akan yang mereka katakan. Aku tak peduli, aku tak peduli lagi dengan mereka. Aku hanya ingin menemukan sosok diriku yang sebenarnya.

Karakter jiwa yang tak dipengaruhi orang lain. Karakter yang ingin kuciptakan sendiri. Seakan-akan akulah penulis cerita di novel kehidupan. Tak seorangpun ku izinkan untuk menjadi editor novelku. Tulisanku, adalah kebebasanku. Begitu juga hidup ini, hidupku adalah apa yang aku ingin lakukan. Aku bebas untuk memilih, dan aku yang akan menerima resiko dengan apa yang kuperbuat. Tanpa menuruti kata-kata orang lain. Tanpa percaya pada mereka, tanpa pengaruh mereka. Akan kujalani hidup ini sesuai dengan maksud hatiku. Karena aku percaya pada kata hatiku. Because, “my heart never lie.”

Aku bukannya egois, namun sepertinya aku memang egois, lihat saja kata-kata di atas. Aku tak peduli pada kata-kata orang lain. Tapi, aku peduli pada apa yang ku lihat. Aku peduli dengan yang mereka rasakan. Tapi, pedulikah mereka padaku??? Adakah yang peduli pada orang sepertiku?? Apa aku harus berubah seperti yang mereka inginkan. Apakah karakter “Aku” pada novel kehidupanku harus berubah??? Haruskah aku menjadi apa yang orang lain inginkan??? Atau menjadi apa yang memang aku inginkan???

Aku pun bertanya pada hati. Namun, ia tak menjawab. Hatiku sepertinya tak mampu menjawab, ia bingung. Logika juga. Aku harus bagaimana?? Apakah aku harus menjadi anak-anak lagi? Tanpa memikirkan apa yang terjadi ke depan. Just let it flow. Tapi, berfikir seperti anak-anak mungkin akan membuatku lebih baik. Namun, aku tak ingin bertingkah kekanak-kanakan. Aku menuju dewasa yang berfikir lepas, seperti aku dahulu. Seperti aku di masa lalu. Sanggupkah aku kembali??

Aku harus percaya, aku harus yakin bahwa aku bisa. Aku harus percaya pada diriku sendiru. Aku mampu jadi lebih baik, tanpa harus tenggelam lebih dalam. Lebih baik aku menyelam jauh ke dasar untuk melihat bagaimana keadaan di sana. Agar aku sadar telah berada di permukaan dan dapat menghirup udara segar. Melihat mentari bercahaya, merasakan kehangatannya.

Semua belum berakhir, perjalananku masih panjang, masih begitu jauh dari tujuan. Aku rasa, aku belum mendapatkan apa yang sesungguhnya ku inginkan. Aku belum memiliki apa pinta hatiku. Logikaku belum mengerti apa maksud hati. Aku harus bisa menyatukan hati dan logika. Aku ingin mereka sejalan dan tidak membuatku bingung.

Kini, aku masih terus berlayar menuju hari esok. Masih mencoba temukan puzzle-puzzle yang hilang. Suatu saat, aku percaya bahwa aku dapat menemukan segalanya. Aku dapat meraih yang ku inginkan. Puzzle-puzzle itu tak akan menyebrangi galaksi. Mereka tak akan mampu keluar dari bumi. Karena magnet cinta telah mengikat puzzle-puzzle itu sangat erat.

Di suatu tempat, di suatu saat nanti, aku akan membuat puzzle-puzzle itu kembali bercahaya. Menyatu menjadi yang terindah. Kenangan manis yang tak akan terlupakan. Tak usah ku tenggelam dalam rindu, saatnya untukku keluar, melihat dunia. Tak hanya duduk dan termenung di muka LCD 14” ini. Kini, saatnya aku beranjak pergi, arungi hidupku. Salam perpisahan untuk sahabat. Maaf, aku tetap harus pergi dan lanjutkan perjalananku. Aku akan menantimu di penghujung ceritaku, cerita kita. Atau kau akan menantiku di sana.

Selamat tinggal teman, selamat tinggal sahabatku, selamat jalan…. Semoga kita dapat bertemu lagi dengan genggaman mimpi dan cita-cita di tangan. Tak hanya di angan. Puzzle itu akan tetap terus ku cari, agar aku bisa belajar dari pengalaman. Agar aku bisa mengenang masa laluku dengan benar. Agar aku dapat memaknai setiap langkah di hidupku ini.

Aku bisa jadi diriku sendiri untuk meraih apa yang kuinginkan. Tanpa harus menjadi orang lain. Aku hidup untuk kebebasanku, aku lepas dan bahagia. Itu tujuanku. Tulisanku tak akan berhenti di sini. Masih banyak cerita yang menantiku di depan. Sejarahku masih terlalu jauh dari sempurna. Cerita ini akan terus berlanjut hingga akhir menjelang yang tak ku tahu kapan ia datang.

 

Bandung, 18 May 2009

By: Vholoz van Achey

Terbang Bebas Lepas

23 May 2009 at 12:34 | In Coretan | 1 Comment

by: Vholoz van Achey

 

Aku ingin terbang bebas…
lepas…
menuju satu bintang di langit malam
berikan cahaya dengan sinarnya
terang, di kesunyian malam

Aku ingin berbagi rasaku
berbagi suasana hati yang gembira
ceria ini bukan hanya milikku
namun juga milikmu
karena kita satu
tanpa ada jurang pemisah
kita satu dan terikat oleh cinta

Bangkitlah!
masih banyak bintang yang menantimu
untuk berikan sinar terangnya pada bumi

Belum saatnya kau menangis
belum saatnya kau terjatuh
karena aku masih berharap padamu
karena aku selalu ada bersamamu

Percayalah, kita akan selalu bersama
berpetualang tiada henti
arungi cerita kita

Mari ikuti aku, raih tanganku
mari kita terbang
bebas, lepas, menuju bintang
menuju bintang impian kita
dan hiasi langit malam
terangi setiap sudut bumi

 

Bandung, 19 May 2009

Malam yang Menawan

23 May 2009 at 12:17 | In Coretan | Leave a Comment

by: Achy

 

Raja siang tenggelam

digantikan malam

penuh bintang bersama cahaya bulan

begitu indah…

 

Lautan langit malam

dihiasi bintang-bintang

tampak ceria lalui hari-harinya

 

Malam ini begitu menawan…

Temani kesendirianku

di malam sejuta bintang

 

Sepiku pun sesaat hilang

tertutupi indahnya

malam seribu bulan

begitu terang

 

Andai…

putri bulan turun ke bumi

duduk di sisiku dan temani hidupku

penuh cinta dan kasih sayang

 

Malam ini…

akan jadi malam yang panjang

malam penuh kebahagiaan

di atas kesepian

 

 

Padang, 26 Juni 2008

Just… my old one…

16 May 2009 at 10:51 | In Coretan | Leave a Comment

Setiap Kata

 

by: Achey

 

Setiap kata…

Pernah penuhi otakku

Muncul dan hilang

Seperti biasa

 

Setiap kata…

Yang tlah terucap

Tanpa sadarku

Lenyap…

 

Setiap kata…

Terlontar dari bibirmu

Menusuk jiwa

Hancurkan tembok hati

Yang perkasa

 

Kau pergi…

Tinggalkan setiap kata

Penuh makna

 

Kau pergi…

Tinggalkan kenangan kelam

Ntuk hari yang semakin gelap

 

 

 

 

Bandung, 7 November 2008

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.