10.23.09
Mencoba Berbicara tentang Hidup
Mencoba Berbicara
tentang
Hidup
Pemikiranku,
Zulhajismal
a.k.a
Vholoz van Achey
“semoga catatan singkat ini dapat menjadi sedikit bahan renungan tentang apa yang kita jalani”
Hidup adalah proses. Kalimat itu sudah sering kudengar. Namun, ku tak mengerti terlalu banyak mengenai hidup. Mungkin baru secuil makna hidup yang kudapatkan, atau bahkan aku belum temukan apa makna hidup itu sesungguhnya.
Kupikir, hidup itu bisa saja sebuah proses yang dapat membuatku menjadi lebih baik. Namun, hidup juga dapat membuatku mundur beberapa langkah. Itu tergantung pilihanku, itu tergantung bagaimana aku menjalani hidup ini. Begitu juga dengan orang lain. Mereka memiliki pilihan masing-masing, mereka hidup di jalan mereka masing-masing. Karena aku yakin bahwa “manusia menjadi apa yang mereka inginkan.”
Namun, apakah aku sudah hidup seperti apa yang aku inginkan? Jika aku bertanya pada orang lain, mereka biasanya menjawab bahwa hanya aku yang tahu. Mungkin memang benar, tetapi aku juga tak begitu mengerti. Aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Sudahkah aku hidup seperti apa yang aku inginkan? Karena aku belum mengetahui, apa sesungguhnya yang ku inginkan.
Aku masih mencari, apa yang sesungguhnya yang ku inginkan. Aku mencoba untuk merasakan hidup ini. Aku juga berfikir bagimana aku berdiri di bumi ini esok. Aku mencoba mencari seperti apakah aku seharusnya? Bagaimana aku seharusnya? Orang bilang, aku sedang mencari jati diriku. Mungkin memang benar. Sejujurnya, aku masih merasa begitu terombang-ambing dihempas gelombang kehidupan. Aku masih terhembus oleh angin seperti debu-debu yang melayang.
Kembali ku berfikir tentang hidup. Aku sedang menjalani proses itu. Proses hidup. Mencoba mencari jalan yang memang benar, jalan yang memang seharusnya ku lewati, jalan menuju diri yang lebih baik.
Proses demi proses, telah kulewati. Mulai jadi seorang follower hingga menjadi seorang leader pernah kurasakan. Kepedihan, kekecewaan, serta tangisan pernah mampir di dalam proses itu. Terkadang, mereka membuatku terjatuh, tertatih-tatih, dan menerima tamparan yang begitu telak. Hingga memberi bekas yang jelas dan sulit untuk kuhilangkan.
Tetapi, aku juga pernah merasakan bahagianya tertawa gembira. Hingga tetesan air mata kebahagiaan membasahi pipiku. Menghanyutkan kecewa dan kawan-kawannya. Bahagia membuatku cemas, akankah aku masih berbahagia esok? Itu hanya Tuhan yang tahu. Tetapi, aku harus tetap berusaha agar esok, bahagia kembali kunjungi diriku.
Untuk esok yang bahagia, aku harus lakukan apa? Haruskah aku melakukan apa yang kuinginkan tanpa mempertimbangkan apa yang akan dirasakan oleh orang-orang di sekitarku, atau melakukan hal yang tak ku suka, namun membuat orang di sekitarku merasa nyaman. Jika aku egois, maka aku akan memilih pilihan pertama. Namun, jka aku tidak egois, maka aku akan membuat orang lain merasa nyaman berada di sekitarku. Benarkah itu?
Egois mungkin memang sifat pribadi yang telah kumiliki sejak dahulu. Ya, salah satunya mungkin disebabkan karena aku seorang sulung yang baru memiliki seorang adik di kala aku telah 7 tahun lamanya menikmati kasih sayang orang tuaku. Namun, sejak kelahiran adikku, aku mulai belajar untuk berbagi. Berbagi kasih sayang orang tua yang utama. Tapi, hal ini memanglah yang aku inginkan, sehingga aku tak merasa salah dan kecewa. Aku begitu bahagia dengan melihat adikku dan kedua orang tuaku bahagia. Ternyata, keegoisanku tak hanya berujung pada kesalahan. Aku egois untuk tidak memikirkan hal lain, hanya keluargalah yang utama bagiku.
Lalu, apakah makna egois itu sesungguhnya? Bagaimana menurut orang-orang di dunia ini? Faktanya, dalam kehidupan sehari-hari, egois itu sudah dicap sebagai sesuatu yang salah. Tetapi bagiku, aku memiliki pandangan bahwa setiap orang memiliki parameter berbeda dalam menentukan benar-salahnya sesuatu. Ya, bisa saja sesuatu yang aku anggap benar, belum tentu benar untuk orang lain. Jadi, menurutku, kebenaran itu relatif. Tak ada yang 100% benar dan tak ada juga yang 100% salah. Nilai mutlak kebenaran itu hanya dimiliki oleh Tuhan.
Oke, mari kembali ke jalur di mana kita membicarakan proses hidup. Jadi, bagaimanakah kita mendefinisikan proses hidup itu? Apakah kelahiran dan kematian seseorang adalah bagian dari proses hidup? Apakah seorang anak lelaki berumur 6 tahun yang pergi ke sekolah juga proses hidup? Apakah sepasang suami istri yang ber-”kencan” juga merupakan suatu proses hidup? Apakah aku menulis sekarang ini juga merupakan proses hidup? Jika ya, bagaimana dengan seorang yang menghabiskan sisa waktunya di penjara? Bagaimana dengan para koruptor pencuri harta bangsa? Atau seorang gadis yang putus asa karena cinta atau hal lainnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri? Lalu, lihatlah anak-anak jalanan yang bernyanyi riang untuk mendapatkan sesuap nasi hari ini. Apakah semuanya termasuk pada bagian dari proses hidup? Dan aku akan menjawab “YA”. Bagaimanakah menurut Anda?
Aku percaya bahwa semua hal di atas adalah bagian dari proses hidup kita. Mulai dari kita belajar untuk menangis saat bayi, belajar merangkak, lalu bersekolah, berinteraksi dengan lingkungan, kuliah, beraktivitas di kantor, menikah, memiliki anak cucu, dan diakhiri dengan meninggal dunia. Tapi, hidup tak segampang seperti aku menuliskannya di atas. Dan yang aku tulispun hanyalah segilintir dari sekian banyak pilihan dalam hidup. Itu baru hidup di dunia, bagaimana dengan proses hidup kita nanti di Akhirat?
Aku hanya dapat memahami bahwa hidup itu adalah sebuah pembelajaran yang dihiasi dengan banyaknya pilihan. Kita dituntut untuk memilih di setiap persimpangan dalam hidup kita. Dan lagi-lagi, “manusia akan menjadi seperti apa yang mereka inginkan”. Karena manusia memilih jalan hidupnya masing-masing. Misalnya, ketika lulus dari sekolah menengah atas, kita diberi pilihan untuk melanjutkan ke jenjang kuliah, bekerja, menjadi seorang pengangguran, hidup luntang lantung ga jelas, menjadi seorang preman pasar, jual narkoba, atau nikah muda, serta banyaknya pilihan lain yang tak akan aku tulis satu per satu. Ini baru satu persimpangan “lulus sekolah menengah atas”. Belum lagi banyaknya pilihan lain yang telah kita lalui dan yang sedang menanti kita esok.
Ada yang bilang, “Gue ga punya pilihan lagi, gue terpaksa ngikutin maunya nyokap ama bokap buat nikah ama anaknya pak gubernur, padahal gue kepingin untuk kuliah dulu di ITB.” Sesungguhnya, itulah pilihan mereka. Aku berpikir bahwa mereka telah memilh untuk mengikuti keinginan orang tua mereka. Itulah pilihannya. Aku rasa, mereka telah salah mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain. Bisa saja mereka memilih untuk kabur dari rumah dan hidup sesuai keinginannya, menikah dengan anak bapak gubernur dan menjalani perkuliahan dengan status KTP sudah nikah, menjanjikan pada orang tua untuk menikah setelah kuliah, atau berbicara secara baik-baik kepada kedua orang tuanya, dan berbagai pilihan lainnya. Dan sepatutnya kita bersyukur karena telah melewati persimpangan demi persimpangan yang mungkin saja tidak pernah dirasakan oleh orang lain. Kita harus bersyukur pada Tuhan karena kita telah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidup kita sendiri. Masih banyak orang di luar sana yang tidak sempat dan tidak memiliki kesempatan untuk berkunjung di persimpangan “lulus sekolah menengah atas”. Ini dikarenakan orang-orang itu telah memilih jalan lain pada persimpangan-persimpangan sebelumnya. Dan kenyataannya, terkadang kita tidak sadar bahwa setiap pilihan itu memang kehendak kita, bukan kehendak orang lain.
Aku juga sedang berada dalam proses pembelajaran dalam memilih dan menentukan jalan hidupku. Tentunya, aku harus bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk melakukan hal ini. Jadi, ada tiga kata penting yang perlu aku garisbawahi mengenai proses hidup, yaitu pembelajaran, pilihan, dan kesempatan. Kini, aku dapat sedikit mulai mendefinisikan arti dari proses hidup. Menurutku, “proses hidup adalah suatu pembelajaran mengambil kesempatan dalam menentukan pilihan untuk jalan hidup kita masing-masing.”
Tetapi, itu bukanlah definisi akhir bagiku. Karena masih banyak hal lain yang harus ku pelajari agar aku dapat menentukan apa yang aku inginkan, agar aku dapat menjawab berbagai pertanyaan tentang hidup. Bukan tidak mungkin definisi “proses hidup” itu akan berubah nantinya sesuai dengan ilmu yang aku dapatkan.
Aku juga menyadari bahwa kita hidup di dunia ini harus memiliki tujuan. Sudah jelas bahwa kita tak akan terus menerus melewati setiap persimpangan demi persimpangan. Tentu akan ada suatu akhir dari perjalanan kita ini. Akan ada suatu tempat yang kita tuju. Tempat itulah tujuan kita. It’s our destination. Jika kita menilik pada perjalanan proses hidup kita di bumi, maka akhir dari perjalanan itu adalah kematian. Namun, apakah tujuan kita hidup adalah untuk mati?
Jika pilihan tujuan hidup seseorang adalah untuk mati, maka biarkanlah dia memilih. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan bagi kita untuk mengajak seseorang tersebut untuk mengganti pilihannya. Karena pengaruh lingkungan di sekitar seseorang sangatlah besar dalam menentukan pilihan hidup seseorang itu. Contoh, seorang anak yang hidup di jalanan akan terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya. Anak itu akan memilih menjadi seorang pengamen (misal) untuk melanjutkan hidupnya. Karena lingkungan yang keras, anak itu akan tumbuh menjadi seseorang yang “bermental”. Namun,
anak itu tetap saja memiliki pilihan lain, seperti keluar dari lingkungannya. Tapi, anak itu mungkin lebih memilih menjadi pengamen karena tidak mengetahui cara untuk keluar dari lingkungannya.
Hidup, proses, tujuan, pilihan, pembelajaran, kesempatan, dan ada satu hal lagi yang paling penting dalam mengaitkan kata-kata tersebut. Dan satu hal terpenting itu adalah “Takdir Tuhan”. Takdir yang telah diberikan oleh Tuhan pada kita semenjak kita memulai hidup kita di dunia ini. Takdir yang membawa kita hingga kematian menjemput kita nantinya. Namun, aku mulai kembali berfikir. Kita hidup memiliki tujuan, kesempatan untuk memilih, dan kita sedang melalui tahap pembelajaran dalam proses hidup kita. Lalu, dimanakah posisi takdir itu? Apakah takdir itulah yang memang membawa kita menuju tempat di mana kita berdiri kini? Jika ya, apakah gunanya kita belajar untuk memilih dan meggunakan kesempatan itu dengan baik, karena telah ada takdir yang akan membuat kita memilih jalan hidup ini.
Lalu, untuk apa kita hidup sesungguhnya? Apakah hanya untuk menjalani takdir yang diberikan Tuhan pada kita? Apakah menjadi “mainan” Tuhan? Sebenarnya, apa maksud takdir itu ada? Jujur, aku masih jauh dari mengerti tentang takdir. Kebanyakan orang berkata, “Bagaimanapun kerasnya kita berusaha, hasil akhir adalah milik Tuhan. Tuhanlah yang akan menentukan hasil dari kerja kita, hasil dari usaha kita. Dan itulah takdir.” Kalimat ini sungguh membuatku berfikir keras, aku bingung, pusing, dan sakit karena memikirkan hal ini. Aku tak tahu, aku tak mengerti dengan semua ini.
Maka, timbullah satu pertanyaan mendasar dari diriku,“Apa manfaatnya kita hidup dan apa tujuan kita dihidupkan jika Tuhan telah mengatur semuanya dengan takdir?” Aku sangat berharap agar aku mampu menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan yang telah menjadi bagian yang sangat penting dalam rentetan pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya.
Aku ingin memaknai hidup ini dengan benar. Aku yakin, setiap hal yang diberikan Tuhan padaku adalah yang terbaik. Dan aku harus benar-benar percaya pada Tuhan. Aku meyakini bahwa setiap sesuatu diciptakan selalu ada manfaat dan tujuannya. Tapi, apakah tujuan dan manfaatnya itu? Suatu saat nanti, aku harus bisa menemukan tujuan dan manfaat dari hidup ini. Karena Tuhan tak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia.
Semakin lama aku berfikir, semakin aku bingung. Karena belum mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Haruskah aku berlarut dalam pertanyaan ini? Aku rasa, aku memang akan terlarut dalam pertanyaan ini. Karena aku harus mampu menjawabnya.
Aku pernah membaca sesuatu yang dituliskan pada batu bernama Plaza Widya Nusantara. Mungkin bisa disebut monumen. Benda itu, Plaza Widya Nusantara, didirikan sekitar tahun 1996 di kampus ITB (Institut Teknologi Bandung). Padanya, tertulis, “supaya kampus ini menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya”. Jadi, jika aku bertanya di kampus ini, maka harus ada jawabannya. Maka, berusahalah memecahkan setiap misteri pertanyaan. Dan, kita juga harus percaya bahwa Tuhan tidak pernah memberikan masalah yang tak mampu diselesaikan oleh umatnya. Oleh sebab itu, aku harus yakin bahwa setiap pertanyaanku akan dapat terjawab suatu saat nanti.
Pernah terlintas di benakku, “tak ada yang sulit dalam hidup ini, semuanya gampang, hanya tergantung pada apa yang kita miliki”. Misal, kita ingin makan, maka akan terasa mudah jika kita memiliki uang untuk membeli makanan. Dan akan lebih mudah lagi jika kita memang telah memiliki makanan itu. Ya, itu hanya pemikiranku. Anda boleh menampiknya, tak ada larangan. Karena, kita hidup di negara demokratis.
Untuk saat ini, aku rasa hanya itu yang sanggup aku curahkan untuk memikirkan definisi proses hidup. Namun, seiring dengan bergulirnya waktu, maka akan banyak pemikiran-pemikiran lain yang kuharap lebih baik, untuk menyempurnakan definisi proses hidup. Lalu, apa yang akan Anda lakukan jika telah menemukan makna dari proses hidup atau makna hidup itu sendiri? Tentunya, Anda tidaklah harus hanya tertawa riang gembira setelah menemukan apa yang Anda cari. Karena, menemukan sesuatu adalah langkah awal untuk mencari sesuatu yang baru. Misal, jika pertanyaan pertama terjawab, maka akan ada pertanyaan kedua yang akan segera muncul dan selalulah berharap untuk mampu menjawabnya.
Aku tekankan, hidup penuh dengan pilihan, dan setiap pilihan ada konsekuensinya. Jika memilih untuk menang, maka konsekuensinya, kita harus memiliki apa yang kita butuhkan untuk menang, agar kemenangan itu mudah kita dapatkan. Jika tidak, maka pilihlah untuk menjadi seseorang yang kalah.
Setiap pilihan akan mempengaruhi jalan hidup mana yang akan kita tempuh. Adakalanya, kita tak memiliki jalan untuk kembali ke pilihan yang telah kita lewati. Jadi, berhati-hatilah dalam memilih, karena tak jarang kesempatan untuk memilih hanya ada sekali.
Dari pemikiranku, dapat aku nyatakan bahwa, “proses hidup adalah suatu pembelajaran mengambil kesempatan dalam menentukan pilihan untuk jalan hidup kita masing-masing, agar kita dapat mencapai tujuan yang kita dambakan, namun ingatlah bahwa takdir Tuhan juga bermain di dalam hidup yang kita jalani.” Definisi ini bukanlah definisi akhir dari proses hidup. Karena aku masih bernafas dan masih menjalani hidupku. Tentunya, aku yakin akan mendapatkan sesuatu untuk definisi proses hidup itu dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku.
Kemarin untuk Hari Ini
Aku berjalan menelusuri ruang waktu. Meninggalkan hari yang lalu. Aku pernah berjumpa dengan kemarin dan hari ini. Namun, akankah aku berjumpa dengan esok? Itu sebuah pertanyaan yang tak akan mampu ku jawab jika esok belum menjadi hari ini. Bagaimana menurutmu?
Kemarin, aku bukan apa-apa
Hari ini, aku menjadi sesuatu
Esok, aku adalah segalanya
Kemarin, aku tak punya apa-apa
Hari ini, aku punya sesuatu
Esok, aku miliki segalanya
Yesterday, I’m nothing for someone
Today, I’m something for someone
Tomorrow, I’m everything for someone
Itulah prinsip hidup yang ingin aku kembangkan saat ini. “From nothing to something, and from something to everything”. Seperti kata yang sering didengung-dengungkan, “From zero to hero, and now, from hero to superhero”
Laluilah kemarin untuk hidup hari ini, jalanilah hari ini untuk esok yang lebih baik. Itulah kata-kata yang terlintas di benakku sesaat lalu, entah apa yang akan ku raih esok, itu semua bergantung pada apa yang telah aku perbuat hari ini dan hari kemarin yang telah lalu. Satu hal yang kau lakukan akan berandil pada apa yang akan terjadi nantinya.
Bandung, 30 Agustus 2009
by: Vholoz van Achey
10.16.09
Langit Ganesha
Selamat datang muda-mudi Ganesha
Selamat datang di kampus gajah, kampus Ganesha, kampus kita
Lihatlah langit di atas kalian
Lihatlah langit Ganesha yang sepertinya cerah ini
Tataplah langit Ganesha kita
Renungkan…
Akankah langit Ganesha tetap cerah esok?
Akankah langit Ganesha meneteskan air mata esok?
Akankah langit Ganesha mendung esok?
Apa yang akan terjadi pada langit Ganesha kita?
Semua tergantung padaku, pada kami, dan pada kalian,
Muda-Mudi Ganesha…
Semua tergantung pada kita
2009…
Rautlah wajah langit Ganesha
Ukir kenangan indah untuk langit Ganesha
Biarkan ia jadi saksi
Biarkan langit Ganesha menjadi saksi
Dahsyatnya gempuran semangat 2009
Semangat yang menggebu
dan torehkan jejak sejarah untuknya, untuk Ganesha, untuk kita
untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater…
Bandung, 18 Agustus 2009
by: Vholoz van Achey
Hari Ini…
Hari ini…
Seperti biasa, kaki ini melangkah keluar kamar kost
Berlari menuju ruang kelas di lantai tiga gedung kuliah itu
Berharap meraih tetesan fikiran demi menatap masa depan
Selagi mata ini bisa melihat kehidupan hari ini
Aku memalingkan sejenak otakku untuk berpikir tentang negeri kecilku, kampus Ganesha
Mencoba renungkan realita dalam koran-koran itu
de ja vu…
Mungkin itu yang terlintas di benakku ketika melewati sesudut kota ini
Seperti aku pernah lihat ini pada kemarin yang telah lalu
Jika aku perhatikan…
Hari ini penuh warna seperti kemarin…
Hari ini…
Bapak itu berjalan resah
Terpikir nasib dua bocah yang ia naungi
Hari ini…
Nyonya tua itu masih meneteskan air mata
Seperti biasa, ia membisu di dalam dekapan kursi goyang yang entah milik siapa
Hari ini…
Anak itu masih mampu tertawa gembira
Bercengkrama dengan rekan setianya
Tanpa terpikir esok makan apa
Hari ini…
Om-om berdasi itu masih rapi dengan jas hitam mahalnya
Menaiki jaguar megah nan berkilau
Memedihkan mata para orang yang menganut tren bulukan dan koyak itu
Membuat pejabat berseragam itu ngiler meneteskan liur dan menghirupnya kembali
Dengan tren koyaknya, orang itu masih menengadahkan tangan meminta secuil beras penyangga perut
Pejabat berseragam itu mulai bergiat mencari nafkah
Menambah penghasilan demi kejayaan cacing perut yang membuncit
Bekerja part-time sebagai mesin penyedot uang rakyat
Seperti biasa, hari ini…
Jalanan penuh dengan showroom mobil plus manusia yang duduk menyetir di atasnya
Dihiasi oleh bebek-bebek yang berlenggak-lenggok bak di atas catwalk jalanan
Sembari mendengarkan lantunan nada dari gitar hingga biola yang meminta receh
Apakah ini yang akan ku lihat esok?
Aku tak tahu jawabnya,
Mungkin kau tahu, atau tak pernah terfikir olehmu tentang ini?
Kurasa, hanya Tuhan yang tahu…
Namun, otakku, ototku, dan hatiku…
Akan terus berusaha
Bersama beberapa orang dari kaumku
Semoga tetesan fikiran yang ku kejar
Sanggup mengubah esok jadi lebih baik
Bandung, 27 Agustus 2009
by: Vholoz van Achey
Ranah Minangku
Tunas tunas bangsa…
Satu per satu dari mereka berjatuhan
Satu per satu dari mereka berguguran
Tongkat estafet yang semula tidak utuh lagi
Semakin tidak jelas nasibnya
Kepada siapakah ia akan berpegang?
Intan intan keluarga…
Hilang, hancur, dan kilauannya pun semakin redup
Siapakah yang akan mampu menggantikan intan ini?
Tonggak tonggak penopang bundo kanduang
Telah retak bahkan patah
Tak mampu menyangga kehidupan lagi
Apakah yang akan terjadi esok?
Akankah esok mentari masih menjelang?
Akankah mentari masih menerangi ranah Minang?
Tetaplah teguh kawan…
Tetaplah menatap masa depan…
Harapan itu masih ada…
Dan akan selalu ada jika Tuhan belum berkata “akhir”
Tongkat estafet itu akan kita raih, kawan…
Kitalah intan intan keluarga yang akan berkilau
Kitalah tonggak tonggak penopang rumah gadang selanjutnya
Kitalah para pengembara pendidikan bundo kanduang
Mari kita buat mentari tetap menyinari ranah Minang
Bandung, 1 Oktober 2009
Vholoz van Achey
Duka Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi sedang dirundung sedih
Air matanya tak tertahankan
Bencana itu datang lagi hampiri Indonesia
Meluluhlantakkan wajah wajah pulau Sumatra dan Jawa
Mengikis bahagia dan menyesakkan jiwa
Namun…
Di kala Ibu Pertiwi bersedih…
Orang orang ini masih bangga
Orang orang ini masih bahagia
Mengenakan kemewahan mereka
Walau mereka tahu…
Tangisan meradang
Tangisan membanjiri wajah wajah Indonesia
Aku lihat orang orang di gedung itu
Masih mampu tersenyum lebar penuh tawa…
Sementara itu…
Saudara saudara mereka tidak tahu lagi harus tinggal dimana,
tidak memiliki lagi tonggak tonggak penopang keluarga…
Mereka pun juga kehilangan intan intan masa depan,
dan langit pun suram seketika
Hati ini tak mampu ku menahannya
Batinku terluka
Ia merintih sakit, tak mampu berbuat banyak untuk Indonesia
Tak mampu memberi sedikit senyuman untuk Ibu Pertiwi
Aku juga sadar…
Mungkin Aku bukanlah golongan orang orang yang berfikir solutif untuk permasalahan bangsa
Mungkin Aku bukanlah bagian bagian kontributif bagi Ibu Pertiwi
Tapi Aku hanyalah setitik debu dari kaumku, mahasiswa…
Kata orang, kaumku ini diisi oleh manusia manusia berintelektual tinggi
Namun tak semuanya yang berhati
Sama saja dengan para alumnus mahasiswa itu
Orang orang yang kini duduk bahkan tertidur di kursi empuk yang basah dengan lumuran uang
Orang orang yang tertawa bermandikan uang rakyat yang tak mampu memberi setimpal pada rakyat
Mereka tak sadar…
Hanya berfikir tentang kepentingan pribadi
Tak ada salahnya kita berfikir dan bertindak normatif
Jika memang itu masih mampu kita lakukan
Hingga Ibu Pertiwi terlihat makin bersedih
Ia berduka melihat Sumatra dan Jawa yang terluka
Ia bersedih melihat tampang tampang rapih, mengenakan jas dan berkebaya, serta berdandan menor itu hanya mampu tertawa di kursi empuk dalam gedung itu
Belum lagi masalah masalah budaya yang katanya dicaplok tetangga sebelah
Belum lagi masalah masalah seni berkorupsi yang tengah mewabah di negeri tercinta
Belum lagi pertahanan dan keamanan bangsa yang masih dipertanyakan
Terlalu banyak duka Ibu Pertiwi
Sampai sampai, aku pun tak mampu untuk mengukirnya di sini
Walau begitu…
Aku masih yakin
Harapan itu masih ada
Aku dan kaumku, mahasiswa…
Akan mampu memberi sedikit senyum untuk Ibu Pertiwi
Memberi apa yang mampu kami beri
Berlogika dengan benar
Dan bertindak dengan hati
Menyatukan jiwa jiwa, untuk saling berbagi
Memberi rasa peduli bagi kawan kawanku di sana
Bandung, 2 Oktober 2009
Vholoz van Achey
06.27.09
Percayalah pada Hati
senyuman…
kadang tak berarti
kadang hanya kebohongan
kadang hanyalah tipuan
tangisan…
penuh dengan rasa
sulit terungkap
namun, tak selalu sebuah fakta
senyuman dan tangisan
silih berganti temani dirimu
aku juga…
saat kau menangis, aku tersenyum
saat kau tersenyum, aku tertawa
saat kau tertawa, aku bahagia
saat kau bahagia, aku menangis
jangan kau artikan tangisan adalah kesedihan
jangan kau maknai senyuman adalah bahagia
kadang semua hanyalah sebuah kepalsuan
ingatlah…
mata tak selalu melihat dengan benar
telinga kadang mendengar kebohongan belaka
hidung hanya mencium bau parfum itu, bukan wanginya tubuhmu
mulut juga tak selamanya sepakat dengan lidah untuk berkata iya
tangan pun pernah menyentuh yang tak nyata
hey kau!
jangan percaya pada ekspresi
jangan pernah lihat rawut wajah itu
percayalah pada hatimu
biarkan ia berucap bebas
lepaskanlah jiwamu
biarkan ia memeluk jiwaku
semua itu
tidaklah susah
cukup kau tatap mataku dan bicaralah pada hatiku
agar jiwaku mendengar lantunan nadamu dalam damainya
Bandung, 24 Juni 2009
by: Vholoz van Achey
06.20.09
I’m not Crazy Enough
Aku berjalan sendiri di bawah terik matahari
Sinarnya sangat terang penuh kehangatan
Hingga membuat langit berpeluh menagis murung
Menjatuhkan tetes demi tetes air ke muka bumi
Aku hanya terkejut…
Terpana melihat dunia
Begitu cepat berubah, tak kondusif
Gejolak membara jiwa
Telah tertular pada duniaku
Duniamu, dunia kita
Atau bukan dunia siapa-siapa
Gejolak itu, adalah gejolak matahari
Gejolak langit, serta bumi dan kawan-kawannya
Gejolak yang indah dengan penampakan mejikuhibiniu
Dengan semangat petir yang mengaum
Dengan sentuhan badai yang luar biasa
Hahahaha…
Aku mulai terlihat gila
Ada yang setuju?
Apa ini?
Apa yang ku tulis?
Akulah matahari
Akulah langit
Akulah bumi
Siapa aku?
“Hey!”, Seseorang meneriakiku
dia berteriak lantang di depan telingaku,”Kau bukan langit! Kau bukan matahari! Kau bukan bumi! Kau itu mejikuhibiniu!”
ah… dasar orang bodoh…
lalu, ada lagi gadis yang berteriak dengan lembut,”Kau bukan mejikuhibiniu! Kau itu badaiku! Kau juga petirku!”
walah… dasar wanita… mudah saja ku kibuli, atau dia yang kibuli aku?
Hahahaha…
Sebenarnya, aku ini bukan siapa-siapa
Aku memang bukanlah apa-apa yang tak tahu ada di mana dan mengapa
Yang jelas, Aku adalah aku
Aku yang belum cukup berotot untuk jadi raja rimba
Aku yang belum cukup liar untuk dikejar-kejar wanita
Aku yang belum cukup lihai untuk berkorupsi ria
Aku yang belum cukup nakal untuk masuk penjara
Aku yang belum cukup amal untuk mati saat ini
Aku yang belum cukup bandel untuk di DO
Aku yang belum cukup gila untuk masuk RSJ
Aku yang belum cukup umur untuk dapatkan KTP dari si lurah
Aku yang belum cukup pintar untuk dapatkan nobel perdamaian
Aku yang belum cukup acak-acakan untuk setara dengan Einstein
Serta aku yang ‘blablabla’ yang aku tahu atau kau yang tahu?
Sekali lagi, aku adalah aku
Aku yang tak tahu apa-apa…
Aku harus melangkah lebih jauh,
Untuk meningkatkan levelku, level kegilaanku…
Agar aku mengerti tentang semua yang ingin ku mengerti…
Saatnya ku berteriak dalam hati,”I am not crazy enough, so I have to increase my crazy level…”
Sekarang, I have to go… Goodbye my mom, goodbye my father, goodbye my brother & my sister, goodbye my girl, goodbye my friends, goodbye my teacher, goodbye everyone, goodbye everything…
Ada yang mau ikut denganku?
Bandung, 20 Juni 2009
by: Vholoz van Achey
06.19.09
Gombalization
Kata orang ini era globalisasi, alias era pemanasan global. Era yang memusingkan semua orang. Era kesadaran dan semakin ketidaksadaran manusia dalam menjaga lingkungannya. Berbagai masalah timbul dan saling menimbulkan masalah baru. Mulai dari penebangan hutan secara besar-besaran yang berdampak pada berkurangnya lahan paru-paru bumi, industri di negara-negara maju yang mengikuti nafsu dunia belaka yang menyebabkan produksi CO2 berlebih, dilanjutkan dengan kerusakan lapisan ozon bumi, disebut-sebutlah efek rumah kaca.
Saya melihat orang-orang Indonesia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, murid hingga guru, tidak semuanya mengeri apa itu efek rumah kaca. Mereka masih bingung. Tapi, pada artikel ini, saya tidak akan membahas tentang globalisasi, tapi GOMBALIZATION. Karena sudah terlalu banyak yang menyuarakan globalisasi, terlalu banyak yang mengajak, namun, masalah dunia tidak itu saja. Memang, orang-orang lebih mengutamakan masalah lingkungan. Akan tetapi, jika makhluknya saja tidak bersih bagaimana lingkungannya akan bersih.
Sama halnya yang terjadi di Indonesia kini. Pada musim-musim PEMILU kali ini, capres dan cawapres ngomong ini itu di sana sini. Mereka berteriak, “Ini visi saya, blablabla…” atau “Jika saya terpilih menjadi presiden nantinya, maka……bla bla bla…..”. Rata-rata omongan mereka memang baik jika benar-benar terjadi, benar- benar nyata. Tak hanya omong kosong belaka, bukan sekedar rayuan gombal agar rakyat memilih mereka, agar rakyat mencintai mereka. Tapi, berikanlah bukti nyata.
Sudah cukup kami saja yang menggombal pada wanita untuk mendapatkannya, sudah cukup para remaja saja yang bermain cinta dengan satu orang. Janganlah Anda-Anda sang calon pemimpin rakyat juga menggombal pada puluhan juta rakyat Indonesia yang memiliki hak pilihnya. Ibaratnya, jika seorang anak lelaki menggombal pada gadisnya, itu hanya satu. Jika Anda-Anda menggombal pada masyarakat Indonesia yang memiliki hak pilih pilpres, wah betapa berdosanya Anda. Seperti JK bilang saat depat capres di Trans TV mengenai pungli, “…Jika KPK tidak melihat, kan Tuhan melihat….” Saat itu saya hanya tertawa penuh harap, sanggupkah JK melakukan hal seperti itu. Jujur pada diri sendiri, ingat Tuhan yang tak bisa disuap. Apalagi ini masalah omongan, tidak hanya Tuhan yang mendengar, tapi jutaan manusia Indonesia juga mendengar apa yang Anda-Anda sekalian ucapkan. Wah, betapa banyak yang akan menuntut kata-kata Anda semua di kemudian hari. Jika kelak salah satu dari Anda-Anda terpilih menjadi pemimpin bangsa yang daerahnya besar ini.
Yah, saya akui Indonesia memang memiliki daerah yang besar, dan dulunya diagung-agungkan sebagai bangsa yang besar. Namun, saya rasa kini Indonesia tidak lagi bangsa yang besar, hanya daerahnya saja yang besar. Lihatlah bagaimana dunia internasional memandang Indonesia kini. Tak ada yang takut pada Indonesia. Harapan saya, pemimpin terpilih nantinya mampu mengembalikan nama besar Indonesia sebagai bangsa yang besar.
Bagaimanapun juga, kita tetap harus optimis menyongsong PEMILU 2009 kali ini. Semoga siapapun pasangan capres-cawapres terpilih nantinya adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Saya harap tidak ada yang golput. Namun, jika mereka yang golput memang berfikir bahwa tidak ada calon yang pantas menjabat, ya saya ingin mereka juga mampu memberikan solusi terbaik. Jangan cuma golput dan tidak peduli lagi dengan bangsa ini.
Untuk pasangan presiden-wapres terpilih, saya sangat mengharapkan konsistensinya terhadap kata-kata yang telah mereka ucapkan, jangan samapai lupa pada setiap omongannya. Jangan sampai, kta-kata itu hanya menjadi rayuan gombal belaka. Cukup era gombalization berakhir di sini. Lalu, untuk yang gagal terpilih, saya harap mampu bersikap dewasa dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Saya bermimpi melihat petinggi-petinggi Indonesia saling mendukung demi kemajuan bangsa ini. Begitu juga dengan rakyat Indonesia itu sendiri, percayakanlah tongkat kepemimpinan selanjutnya pada presiden terpilih, saling tolong, jangan hanya meminta dan menuntut, juga berusaha. Seperti yang tertera pada Kitab Suci, “Tidak akan berubah nasib suatu kaum (bangsa) selain kaum (bangsa) itu sendiri yang mengubah nasibnya.”
Jujur, saya membutuhkan pemimpin yang pro rakyat, mampu melanjutkan itikad baik pemimpin sebelumnya dan sanggup menyelesaikan masalah bangsa ini secara lebih cepat dan lebih baik.
~vholoz van achey~
06.17.09
Bunga Hatiku
Ketika ku pergi..
Jelas ku ingin kembali
segera…
Ketika ku semakin jauh melangkah…
Jelas ku lelah menapaki hari-hari di depan
Namun, sesaat ku terlepas…
Ku hirup udara segar
dan nikamti setangkai bunga mawar indah yang berduri
Harum tubuhnya tercium oleh jiwa…
Lembut sentuhan durinya membekas di hatiku…
Buat ku terlelap hingga esok menjelang…
Kembali ku pergi…
Lanjutkan perjalanan yang tak akan pernah usai…
melupakan mawar itu…
mencari melati yang telah menanti…
mengejar anggek yang jauh di belakangku…
Perjalanan ini semakin keras
Dan semakin indah dengan bunga-bunga hati
yang akan mekar di bumi masa depanku…
Bandung, 13 Juni 2009
by: Vholoz van Achey